GUNUNGKIDUL - Salah satu warung makan berskala UMKM milik Ngadisem, 45, warga Desa Wareng Kapanewon Wonosari dibobol maling Selasa (27/5).
Menurut pengakuan pemilik warung, maling beraksi sekitar pukul 02.00 WIB.
Akibat kemalingan, usaha kecil-kecilan berupa warung makan yang baru dirintis Ngadisem itu mengalami kerugian sampai Rp 1,5 juta.
“Rugi segitu bagi saya ya besar banget,” keluh Ngadisem saat ditemui di warungnya Selasa, 27/5/2025.
Ngadisem menuturkan, mulanya ia sempat ke warung makan yang terletak di Jalan Ki Ageng Giring itu pada pukul 20.00 WIB.
Saat itu Ngadisem melihat ada mobil Avanza bolak-balik di depan warung miliknya.
Ngadisem pun tak menaruh kecurigaan yang begitu pada mobil tersebut.
Sebab, malam itu Ngadisem berpikir bahwa mobil yang terus bolak-balik di depan warungnya itu adalah seorang yang sedang mencari alamat rumah.
“Ya saya melihat mobil itu pas pulang ke warung menaruh barang belanjaan,” ujar Ngadisem.
Setelah menaruh barang belanjaan, Ngadisem pulang ke rumah seperti biasanya.
Namun, saat dirinya kembali mendatangi warung miliknya itu pukul 04.00 WIB untuk memasak, Ngadisem mendapati gembok pintu warung sudah terkoyak.
Meskipun kondisi pintu tetap tertutup, Ngadisem sudah berpikiran bahwa tempat dirinya mencari nafkah kemalingan.
“Saya datang masih tertutup pintunya, tapi gemboknya sudah ambrol,” ujar Ngadisem.
Melihat kondisi gembok yang tak wajar, Ngadisem cepat-cepat memasuki warungnya.
Setelah menyalakan lampu, dirinya syok melihat empat tabung gas 3kg dan satu kompor sudah tak ada.
Padahal, kompor yang dicolong tersebut adalah usaha jerih payah Ngadisem mengumpulkan uang. Kompor yang turut digondol itupun baru saja dibeli Ngadisem enam bulan lalu.
“Saya baru beli kompor biar gak boros gas,” tuturnya.
Ngadisem mengaku syok dan sedih atas musibah yang menimpa dirinya. Tetangganya pun sempat menyarankan Ngadisem untuk melihat kamera CCTV milik warga sekitar.
Namun, dirinya memiliki pasrah dan menerima musibah tersebut. Bahkan, Ngadisem sendiri enggan melaporkan kejadian ini ke kantor polisi.
Sebab, Ngadisem merasa dirinya tidak mengetahui bagaimana prosedur pelaporannya.
Selain itu, pemilik warung tersebut juga takut jika nantinya harus mengeluarkan biaya saat melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. (cr1)
Editor : Bahana.