Nguri-uri Tradisi Lookal, Pemkab Gununkgidul Kembali Laksanakan Ngguyang Sapi Neng Tlogo, Nggayuh Prayogo
Yusuf Bastiar• Senin, 26 Mei 2025 | 05:30 WIB
Prosesi Nguyang Sapi di Telaga Serpeng, Pacarejo, Semanu Minggu (25/5).
GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali melaksanakan kegiatan pelestarian tradisi lokal melalui gerakan “Ngguyang Sapi Neng Tlogo, Nggayuh Prayogo” yang digelar di Telaga Serpeng, Pacarejo, Semanu Minggu (25/5).
Gerakan ini menjadi upaya pemkab untuk mengangkat kembali budaya lama sekaligus memperkuat kesadaran peternak akan pentingnya perawatan hewan secara berkala. Terlihat sapi sapi yang dimandikan di Telaga Serpeng tampak gelisah tidak tenang. Menurut Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, sapi-sapi di Telaga Serpeng terlihat melakukan perlawanan karena tidak terbiasa dimandikan di telaga.
“Budaya guyang sapi ini bukan hal baru, tapi tradisi lama yang harus kita gali kembali,” ujar Endah.
Sudah diketahui bersama efek ngguyang sapi di telaga bisa membuat padatan tanah dasar telaga menjadi rapat. Selain itu juga kotoran sapi yang terbuang ke telaga bisa membuat lumpur di telaga menjadi lebih padat. Sehingga telaga tidak mengalami penyusutan debit air yang signifikan. Hal ini juga dilakukan sebagai langkah mitigasi datangnya musim kemarau panjang tahun ini.
Selain sebagai tradisi, ngguyang sapi di Telaga merupakan bagian dari edukasi kesehatan ternak seperti pemberian vitamin, vaksinasi, dan deteksi cacing. Sebab, melalui tradisi ini bagi Endah dapat membangun kepercayaan peternak terhadap tenaga kesehatan hewan.
Selain itu, Endah juga menuturkan masih banyak peternak yang ragu terhadap tindakan medis karena khawatir ternaknya sakit atau mati pasca-vaksin. Oleh karenanya, pemkab mengeluarkan dua kebijakan penting. Yakni peraturan bupati tentang pengamanan penyakit hewan menular dan Peraturan Bupati tentang pemberian tali asih untuk ternak yang terdampak penyakit antraks dan penyakit menular lainnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Wibawanti Wulandari menjelaskan bahwa dinasnya terus aktif melakukan edukasi dan pelayanan melalui berbagai lini, mulai dari TP PKK, taruna tani, sekolah-sekolah, hingga puskeswan. Bahkan Dinas Peternakan Gunungkidul sampai menyusun materi khutbah Jumat sebagai media edukasi kolektif.
“Vaksinasi bukan lagi pilihan, tetapi kewajiban untuk menjaga keamanan pangan dan mencegah wabah penyakit,” jelas Wibawanti. (cr1)