GUNUNGKIDUL - Angka kasus bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul terus mengalami penurunan. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Ismono optimistis angka itu akan terus turun.
”Kami terus berupaya agar kejadian-kejadian tersebut dapat dicegah dengan pendekatan dan pendampingan psikologis,” jelas Ismono kepada awak media Rabu (19/2).
Berdasar data dinkes, angka bunuh diri di Bumi Handayani pada 2024 sebanyak 26 kasus. Angka ini turun dibanding beberapa tahun sebelumnya. Pada 2022, misalnya, angka bunuh diri sebanyak 30 kasus. Setahun sebelumnya mencapai 36 kasus.
Menurutnya, kesehatan mental menjadi pemicu terbesar kasus bunuh diri. Ironisnya, jumlah tenaga medis psikologi klinis sangat terbatas.
”Dan, ada 1.650 pengidap ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) di Gunungkidul,” sebutnya.
Karena itu, Pemkab Gunungkidul menggandeng Indonesia Private Industries (IPI). Itu sebagai salah satu upaya memperbaiki layanan kesehatan mental. IPI akan mendatangkan psikolog dari dalam negeri maupun luar negeri.
”Hal ini dilatarbelakangi persoalan kesehatan mental yang belum tertangani dengan baik," ujar Direktur IPI Firtriansyah.
Menurutnya, IPI telah mengadakan diskusi dengan seluruh pemangku kepentingan. Hasil diskusi kelak dijadikan pijakan dalam menentukan formula pengelolaan dan penanganan persoalan kesehatan mental.
“Kami akan memadukan wawasan internasional dengan wawasan lokal. Sebab, persoalan kesehatan mental di setiap wilayah berbeda-beda,” katanya.
Pengumpulan data mengenai pengidap ODGJ atau gangguan mental akan dikumpulkan dari puskesmas, lader, tokoh pendidikan, hingga sekolah. IPI juga akan melihat sejauh mana tingkat layanan kesehatan mental yang berjalan di Gunungkidul. (ndi/zam)
Editor : Sevtia Eka Novarita