Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wah, Sapi Mati Terinfeksi Antraks di Gunungkidul: Tidak Dimusnahkan Sesuai SOP, Malah Dijual ke Pedagang Lain, Begini Kronologinya..

Andi May • Selasa, 18 Februari 2025 | 05:56 WIB

 

HEADSHOT: Sekda Gunungkidul Sri Suhartanta saat diwawancarai awak media, kemarin (17/2/2025).
HEADSHOT: Sekda Gunungkidul Sri Suhartanta saat diwawancarai awak media, kemarin (17/2/2025).

GUNUNGKIDUL – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul memastikan, satu ekor sapi dilaporkan mati mendadak di Kalurahan Tileng, Kapanewon Girisubo karena positif terinfeksi virus antraks.

Pihaknya melakukan berbagai langkah antisipasi agar virus zoonosis tersebut tidak menyerang hewan-hewan di sekitarnya.

Kepala DPKH Gunungkidul Wibawanti Wulandari menyebutkan, sapi mati positif antraks itu berjenis Limosin, umur 1,5 tahun, jantan yang ditemukan pada Rabu, (5/2/2025) lalu.

Setelah pengambilan sampel, hasilnya keluar menyatakan positif antraks, pada Sabtu (15/2/2025).

Pemilik sapi mati ini merupakan seorang peternak yang memiliki 4 ekor hewan, meliputi 2 kambing dan 2 sapi. Satu ternak di antaranya mati yaitu sapi di tangan peternak.

Dan 3 lainnya masih suspek menunggu hasil laboratorium.

Lebih mencengangkan, laporan menyebutkan bahwa sapi yang terinfeksi antraks itu tidak dimusnahkan secara benar.

Sebaliknya, sapi tersebut justru dijual ke pedagang luar daerah. Namun, setelahnya tidak diketahui kronologi pasti, namun sapi mati itu tanpa melalui proses penguburan yang aman.

"Informasi yang kami dapat, bangkai sapi yang mati tidak dikubur sesuai SOP (standar operasional prosedur), melainkan diberikan ke pedagang," ujar Wibawanti kepada awak media, Senin (17/2/2025).

Hingga kini, pihaknya belum mengetahui apakah ternak tersebut sempat dikonsumsi warga atau tidak.

Namun, dia telah mengambil langkah-langkah antisipasi agar virus zoonosis tersebut tidak menyerang hewan-hewan di sekitarnya.

Salah satu upayanya dengan melakukan pelacakan untuk memastikan kemana sapi yang terinfeksi itu dibawa oleh pedagang demi mencegah risiko penularan kepada masyarakat.

Wibawanti juga menekankan pentingnya kesadaran peternak dan pedagang untuk melaporkan setiap kematian hewan secara mendadak agar tindakan cepat dapat dilakukan.

"Langkah-langkah antisipasi penularan telah kami lakukan, kami berharap hewan ternak di sekitarnya tidak ikut terinfeksi, namun kami telah mengambil sampel dari ternak lainnya," tuturnya.

Wibawanti menyebut, saat ini tidak ada tanda-tanda gejala antraks pada hewan ternak lain di sekitar lokasi.

Salah satu untuk mencegah yaitu melakukan penyemprotan disinfektan di area tersebut dan menganjurkan agar ternak di sekitar tidak dipindahkan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

"Kami sudah menganjurkan untuk hewan ternak lainnya, untuk tidak keluar terlebih dahulu dari wilayah itu," jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Gunungkidul Sri Suhartanta mengatakan, pihaknya telah melakukan pendataan hewan ternak di lokasi tersebut.

Dari data yang ada, indikasi antraks terdapat pada tiga ekor sapi dan dua ekor kambing.

"Mati satu ekor sapi, kami telah memerintahkan kepada DPKH untuk menelusuri asal dari antraks tersebut dan penanganan pasca kematian," ujarnya.(ndi/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#zoonosis #Gunungkidul #Girisubo #pedagang #antraks #DPKH GUnungkidul #Dijual #sapi mati #peternak