GUNUNGKIDUL - Program Makan Bergizi Sehat (MGB) untuk anak-anak sekolah di Gunungkidul kini semakin mendekati tahap operasional. Bagaimana kesiapan mereka agar dalam pelaksanaan sesuai dengan harapan?
Bangunan gedung Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Unit 1 Gunungkidul bau cat tembok. Masih baru, tegak berdiri pada lahan milik Kodim 0730 Gunungkidul. Bangunan cat dominasi biru tua dan biru laut nampak menjulang di pinggir Jl Kesatrian, Wonosari. Lokasi persisnya depan Lapangan Kesatrian Wonosari.
Pada Selasa (21/1/2025), Radar Jogja mengunjungi SPPG Wonosari. Karena program MGB belum mulai, suasana luar dalam nampak lengang.
Kepala Satuan SPPG Unit 1 Gunungkidul, Hindun Astri Nurdianti mengungkap persiapan dapur akan menjadi pusat pengolahan makanan bergizi hampir mencapai 100 persen.
“Cuma tinggal beberapa perbaikan kecil dan pemasangan alat yang diperlukan,” kata Hindun pada Selasa (21/1/2025).
Dapur akan memiliki kapasitas luar biasa, mampu memasak hingga 3.000 porsi makanan setiap hari. Bahan baku untuk makanan bergizi diperoleh dari pemasok lokal dan langsung diproses di dapur tersebut.
“Kami ingin menggunakan bahan dari sekitar Gunungkidul, sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga membantu perekonomian lokal,” ujarnya.
Guna memastikan makanan sampai ke tangan para siswa, distribusi bakal dilakukan menggunakan kendaraan milik BGN (Badan Gerakan Nasional).
“Sekarang baru empat sekolah yang kami layani, tapi kami terus melakukan pemantauan agar cakupan bisa diperluas,” lanjutnya.
Dengan melibatkan 51 orang tenaga kerja yang bertugas setiap hari di dapur dan dalam distribusi, dia menegaskan bahwa prosedur operasional standar (SOP) menjadi hal paling utama dalam memastikan kualitas dan keamanan olaham makanan.
“Kami sudah menyiapkan pelatihan bagi karyawan dan melakukan uji coba demi memastikan semua alat dan proses berjalan sesuai rencana,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Hindun menekankan pentingnya waktu konsumsi makanan. Setiap porsi harus dikonsumsi dalam waktu maksimal empat jam setelah dimasak agar tetap terjaga kualitas dan keamanannya.
“Kami sangat serius dalam menjaga mutu makanan, karena kami ingin anak-anak di Gunungkidul mendapatkan makanan sehat layak konsumsi,” tegasnya.
Program itu tidak hanya menjangkau wilayah perkotaan, namun sekaligus menyasar daerah-daerah pinggiran yang lebih sulit dijangkau. Menurutnya, masyarakat di daerah-daerah tersebut lebih membutuhkan program semacam ini karena keterbatasan akses dan sumber daya.
“Di daerah pinggiran, mereka lebih menerima dan mengonsumsi makanan yang diberikan. Kami berharap program ini benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi mereka,” jelasnya.
Dengan persiapan matang, dia berharap Program MGB dapat segera berjalan lancar dan memberikan dampak positif, terutama bagi generasi muda di Gunungkidul. Semua pihak terlibat optimistis, bahwa melalui program tersebut. Anak-anak bakal mendapatkan asupan gizi lebih baik, sehingga dapat mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.
"Termasuk antisipasi keracunan sudah kami siapkan, jangan sampai ada jangan wayu (sayur basi)," ungkapnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin