GUNUNGKIDUL – Sebanyak empat orang di Kapanewon Paliyan, Gunungkidul positif chikungunya. Jumlah tersebut berasal dari 64 kasus yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul.
Empat orang yang dinyatakan positif, telah melalui pemeriksaan serologi. Selain di Paliyan, kasus serupa juga dilaporkan terjadi di Kapanewon Semanu. Jumlahnya mencapai 13 orang. Namun sampai saat ini masih dalam proses pemeriksaan. Sehingga ada 73 orang yang tengah dinyatakan suspek.
“Data terus kami perbarui seiring dengan investigasi di lapangan. Kami berupaya mengidentifikasi pola penyebaran untuk mencegah bertambahnya kasus,” ujar Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono saat dihubungi Minggu (29/12/2024).
Ismono menjelaskan, chikungunya sendiri merupakan sebaran virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopyctus. Gejala penyakit ini berupa demam tinggi, nyeri otot dan sendi, ruam kemerahan di kulit, mual, sakit kepala, hingga kelelahan ekstrem. Pada kasus berat, beberapa penderita bahkan mengeluhkan kesulitan berjalan akibat nyeri sendi yang parah.
Untuk itu, Ismono mengimbau bagi warga yang merasakan gejala-gejala tersebut segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Saat ini, dinas juga telah melakukan penyelidikan epidemiologi di wilayah terdampak. Serta dilakukan fogging dalam radius 100 meter dari titik kasus untuk memberantas nyamuk dewasa.
“Langkah ini dilengkapi dengan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,” sebutnya.
Termasuk adanya genangan air yang tidak dibersihkan. Berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab chikungunya dan DBD.
Masyarakat juga diminta untuk terus menggalakan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Langkah ini melibatkan masyarakat untuk memastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah. Seperti di wadah bekas, selokan, dan tempat-tempat yang sulit terpantau.
Sementara itu, Direktur RSUD Wonosari Dyah Prasetyorini mengatakan, gejala chinkungunya hampir sama dengan gejala DBD. Perbedaannya ialah penyakit DBD memiliki fase dengue shock syndrom (DSS) yang dapat menyebabkan risiko kematian.
"Sedangkan chikungunya tidak mengancam nyawa, namun keluhannya bisa sangat melemahkan," ujar Dyah.
Musim penghujan selalu menjadi waktu yang rawan bagi penyebaran penyakit berbasis nyamuk, termasuk chikungunya dan DBD. Curah hujan yang tinggi meningkatkan jumlah genangan air yang menjadi habitat nyamuk. Kondisi ini diperburuk oleh daya tahan tubuh yang menurun akibat cuaca dingin.
“Jaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan obat antinyamuk atau kelambu, terutama saat malam hari,” pesannya. (ndi/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita