GUNUNGKIDUL - Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) membeberkan sejumlah temuan usai menelusuri temuan gua di kawasan proyek Jalan Jalur Lingkar Selatan (JJLS) Kalurahan Planjan, Saptosari, Gunungkidul, Rabu (23/10).
Pakar Geomorfologi UGM Profesor Eko Haryono mengatakan, gua tersebut ialah gua 'Freatik' yang terbentuk di dekat muka air tanah yang memiliki struktur lapisan batuan. "Beberapa batuan di dalamnya lebih gembur terjadi pelarutan batu gamping sehingga terlihat seperti kristal-kristal," ujar Eko.
Guru Besar Bidang Ilmu Geomorfologi Fakultas Geografi UGM itu menyebut, proses pembentukan stalagmit dan stalakit di dalam gua tersebut hingga kini masih aktif. Namun, beberapa batuan hasil pelarutan mulai ada kerusakan yang diduga sempat dimasuki beberapa orang setelah penemuan.
Pihaknya belum melakukan pengukuran luasan dari gua tersebut. Namun begitu, gua diperkirakan tidak dapat dimasuki oleh orang banyak. "Kalau untuk wisata massal sepertinya tidak bisa, kami rencananya akan membuat virtual reality mengenai isi dalam gua," tuturnya.
Gua pertama kali ditemukan oleh para pekerja proyek saat melakukan pengeprasan salah satu bukit untuk keperluan pembangunan JJLS pada Selasa (15/10) malam.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) DIJ Tri Murtoposidi mengatakan, pembangunan JJLS di sekitar gua tersebut meliputi pengerjaan jalan dan bundaran. "Kami juga tidak menyangka di tengah proses pengeprasan malah menemukan gua," ujar Tri.
Mengenai temuan gua tersebut, kata Tri, tengah menunggu hasil penelitian yang dilakukan tim dari UGM. Penelitian bertujuan untuk tindaklanjut setelah adanya gua di sekitar pembangunan tersebut.
"Dari penelitian yang sudah dilakukan, gua yang ditemukan itu tidak mengarah ke jalan yang sedang dibangun," jelasnya.
Pengeprasan atau penggalian bukit sendiri rencananya membutuhkan kedalaman 12 meter lagi. Apabila tidak terdapat rongga, lanjut Tri, proses penggalian akan dilanjutkan kembali.
"Sehingga kami tidak perlu mengubah trase lagi, kemungkinan ada rekayasa baru terkait pengerjaan usai penemuan gua tersebut," tuturnya.
Pihaknya memastikan, pengerjaan kawasan JJLS tidak akan merusak keberadaan gua tersebut. Bahkan, gua tersebut dapat dijadikan objek wisata baru jika dapat direkomendasikan oleh tim peneliti. "Gua tetap bisa dilindungi, dan konstruksi tetap berjalan," ucapnya.
Lebih jauh Tri menuturkan, letak gua tidak tepat berada di badan jalan. Pihaknya juga memastikan proses penelitian akan berlangsung selama seminggu ke depan.
Tri menjelaskan, detail pengerjaan ialah jalan sepanjang 0,85 kilometer dengan bundaran simpang tiga jalan. Target rampung pengerjaan jalan tersebut diperkirakan sampai akhir 2024. (ndi/pra)
Editor : Heru Pratomo