GUNUNGKIDUL - Labuhan Fest di Kalurahan Girisuko, Panggang, Gunungkidul, bukan sekadar ritual budaya. Namun agenda tahunan yang dipusatkan di Telaga Moto Indro itu juga dikolaborasikan dengan kegiatan desa preneur berupa pameran usaha mikro kecil menengah (UMKM).
“Festival Labuhan Girisuko ini dapat menjadi wadah bagi para pelaku UMKM mempromosikan produk-produk lokal yang potensial. Keduanya bisa dintegrasikan,” ujar Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DIY Wisnu Hermawan di sela acara yang berlangsung pada Sabtu (19/10/2024) lalu.
Wisnu datang khusus dari Jogja. Dia mengingatkan, Girisuko merupakan salah satu desa yang cukup terisolasi karena dikelilingi hutan-hutan. Padahal, daerah tersebut menghasilkan beragam produk UMKM. Di antaranya, batik, tatal kayu, keripik pisang dan lainnya. Produk lokal tersebut dapat disinergikan dengan pengembangan pariwisata dan kebudayaan.
“Festival Labuhan Girisuko ini menjadi agenda yang menarik atensi masyarakat dan wisatawan,” tandasnya. Itu membuka peluang bagi para pelaku UMKM mengenalkan produknya. Ada sejumlah 40 pelaku UMKM berpartisipasi aktif selama festival labuhan berlangsung yang mendapatkan dukungan Dinas Koperasi dan UKM DIY.
Sebagai desa preneur, terang Wisnu, instansinya, menaruh perhatian serius. Pembinaan dan pendampingan terus dilakukan. Desa preneur yang dikembangkan di Kalurahan Girisuko bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan dinamika entrepreneurship.
Selain itu, membantu mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran dengan peningkatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan. “Desa Prener juga dapat digunakan sebagai contoh pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan pemberdayaan ekonomi,” kata pejabat yang tinggal di Sewon, Bantul ini.
Labuhan di Telaga Moto Indro menjadi ritual budaya yang ditandai dengan persembahan hasil bumi. Sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah atas hasil panen yang melimpah. Masyarakat memikul gunungan hasil bumi menuju telaga. Empat gunungan dipersembahkan warga dari Padukujan Temuireng 1 dan Temuireng 2. Hasil bumi yang disajikan berupa nasi, jagung, sayur mayur, buah-buahan, dan hasil peternakan. Sampai telaga, acara dilanjutkan pertunjukan tari Sukoparisuko.
Lurah Girisuko Jamin Paryanto mengatakan, tradisi Labuhan dilaksanakan rutin setiap tahun menjelang masa tanam. Tepatnya pada saat peralihan musim dari kemarau ke penghujan. "Tradisi ini sudah dilakukan turun temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur," terang Jamin. (ndi/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita