GUNUNGKIDUL - Megaproyek Pelabuhan Gesing, di Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Gunungkidul rupanya jauh dari harapan para nelayan setempat. Padahal, Rp 152 Miliar dari Dana Keistimewaan (Danais) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) digelontorkan untuk menunjang Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Gesing ini.
Pantai Baca Juga: Optimalisasi Operasional Pelabuhan Gesing, DKP Gunungkidul Usulkan Bantuan Bagi Nelayan ke Pusat
Akan tetapi, rupanya pembangunan Pelabuhan Gesing menyimpan ironi dari para nelayan maupun pedagang setempat. Mulai dari pengusiran paksa para pedagang hingga tertutupnya mata pencaharian para nelayan selama dua tahun lamanya.
Ketua Kelompok Nelayan Panjolomulyo Sukadi (53) mengatakan, rencana pembangunan Pelabuhan Gesing itu terdengar oleh mereka pada 2019 lalu. Rencana tersebut rupanya menimbulkan kekhawatiran, sebab mereka telah merasa nyaman dengan kondisi Pantai Gesing baik untuk melabuhkan kapal maupun mencari ikan. "Awal sosialisasi tentang perencanaan pembangunan itu, kami sudah menanyakan terkait nasib kami dan pedagang di sini bagaimana," ujar Sukadi kepada awak media, Minggu (22/9).
Pada saat itu, kata Sukadi, mereka dijanjikan kompensasi dari dampak selama pembangunan berlangsung. Sebab, selama dua tahun para nelayan tidak dapat lagi untuk berlayar. Alhasil, tak ada pendapatan selama pembangunan itu.
Tabungan dan uang kas nelayan akhirnya dikeluarkan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Selama dua tahun mereka tidak dapat lagi mencari ikan akibat pembangunan pelabuhan Gesing."Awal pembangunan pada 2021 lalu, sejak itu kami tidak bisa lagi mencari ikan, kapal terpaksa harus kami naikkan ke daratan," ungkapnya.
Bahkan, lanjut Sukadi mereka tidak dilibatkan dalam proses pembangunan pelabuhan. Masukan terkait tata letak bangunan pun yang mereka sampaikan pun tak diindahkan. Padahal, jauh sebelum adanya pembangunan pelabuhan, Pantai Gesing menjadi lokasi yang nyaman bagi mereka untuk melabuhkan kapal. Sukadi menceritakan, Pantai Gesing memiliki pasir putih yang cantik nan indah. "Sebelum seperti ini, dulunya Pantai Gesing menjadi tempat yang nyaman mendaratkan kapal kami dan objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan," jelasnya.
Merangkap menjadi pedagang, para nelayan setempat mampu meraup belasan juta dalam sehari dengan beraktivitas di Pantai Gesing. "Kalau saya tahu seperti ini jadinya, lebih baik tidak ada pembangunan pelabuhan," tuturnya.
Bagaimana tidak, semenjak delapan bulan beroperasi, Pelabuhan Gesing kini sangat tidak ramah bagi kapal nelayan. Pasalnya, kapal-kapal yang disandarkan di pelabuhan rusak akibat terhantam gelombang. "Tak ada akses bagi kapal untuk naik ke daratan, kami harus menyewa alat berat untuk menaikan kapal, bahkan kami tidak bisa tidur karena takut kapal rusak terhantam ombak," ucapnya.
Nelayan lainnya Jiwanto mengaku, kapalnya rusak terhantam batuan dan ombak akibat tak ada perhatian bagi nelayan selama pembangunan. Padahal, mereka sudah mengusulkan tata letak agar kapal tetap aman. Namun, saran yang diberikan tak kunjung diindahkan oleh pemerintah. "Ombak tiga sampai empat meter menghantam kapal-kapal kami yang sedang disandarkan, akibatnya berujung kerusakan. Padahal selama bertahun-tahun di sini tidak pernah kami alami yang seperti itu," ujar Jiwanto.
Jiwanto juga mengungkapkan, selama pelabuhan beroperasi mereka tidak mendapatkan fasilitas penyimpanan perlengkapan nelayan. Bangunan yang telah berdiri tak kunjung dimanfaatkan.
Pedagang Pantai Gesing Suyatno mengatakan, telah berdagang sejak 2012 silam. Memutuskan untuk berdagang di Pantai Gesing karena melihat ramainya kunjungan wisatawan sebelum adanya pembangunan pelabuhan. "Saya membuka warung makan, mulai dari makanan laut, kopi dan lain-lain, omset dalam per-hari mencapai jutaan rupiah pada waktu itu," ujar Suyatno.
Baca Juga: Siapkan Rp 280,7 M untuk Proyek Pelabuhan Gesing
Namun, semua itu sirna semenjak mereka dibongkar paksa untuk pindah dengan dalih pembangunan dan kebersihan pelabuhan. Setidaknya, sembilan lapak pedagang dibongkar paksa. "Kami ini dibuang, lapak dibongkar dengan alasan pembangunan dan kebersihan pelabuhan, peristiwa itu sekitar 2021 lalu," ucapnya.
Suyatno memutuskan untuk jualan di pinggir jalan menuju pelabuhan. Akan tetapi, tak ada lagi pengunjung Pantai Gesing pembangunan tersebut. "Pendapatan hampir tidak ada, berbeda ketika waktu menjual di pantai," tuturnya.
Dia menuturkan, pembongkaran mendapatkan ganti rugi dari pihak terkait. Namun nominal yang diberikan jauh dari kata cukup buat para pedagang. Mereka juga dijanjikan bakal mendapatkan lapaknya kembali ketika pembangunan telah rampung. "Uang ganti rugi Rp 1 juta, terkait lapak yang dijanjikan sampai saat ini belum ada perkembangan," jelasnya. (ndi/din)
Editor : Din Miftahudin