RADAR JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul menyebut terjadi inflasi year on year (yoy) sebesar 2,08 persen pada Juli. Inflasi atau kenaikan harga sebagian besar pada indeks kelompok pengeluaran.
Kepala BPS Gunungkidul Joko Prayitno menjelaskan, indeks kelompok pengeluaran terhadap makanan, barang, jasa dan perumahan. Di antaranya, kelompok makanan, sandang, peralatan dan pemliharaaan rumah, kesehatan dan transportasi.
"Kelompok makanan, minuman dan tembakau terjadi kenaikan inflasi sebesar 4,82 persen di wilayah Bumi Handayani," ujar Joko kepada awak media Minggu(4/8).
Untuk kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,98 persen. Perumahan sendiri yang terdiri dari perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,77 persen. Sedangkan, kelompok kesehatan sebesar 2,75 persen.
Inflasi di Bumi Handayani juga terjadi pada kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 1,72 persen. Transportasi sebesar 0,3 persen. Kemudian, diikuti kelompok pendidikan sebesar 1,02 persen.
"Restoran 0,38 persen dan perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 4,82 persen," jelasnya.
Joko menyebut, harga rata-rata dari baramg dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 104,6 persen.
Selain inflasi, kata Joko, ada beberapa kelompok yang mengalami deflasi. Yakni kelompok perumahan terdiri dari air, listrik dan bahan bakar sebesar 0,6 persen.
Kelompok pengeluaran terhadap informasi, komunikasi dan keuangan sebesar 0,16 persen. "Deflasi month-to-month Gunungkidul bulan Juli kemarin sebesar 0,5 persen, tingkat inflasi year to date 0,8 persen," bebernya. (ndi/eno)
Editor : Satria Pradika