RADAR JOGJA - Pada semester pertama 2024, Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mencatat terdapat 16 kasus leptospirosis. Penyakit yang berasal dari bakteri kencing tikus itu tersebar di Kapanewon Patuk, Ponjong, Karangmoji, Nglipar, Gedangsari, dan Tepus.
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, pasien yang mengidap penyakit leptospirosis mayoritas bekerja sebagai petani. Perubahan iklim menjadi salah satu faktor penyebab mewabahnya penyakit berbahaya tersebut. Tren kenaikannya fluktuatif.
Tahun 2021 ada 17 kasus dengan empat kematian, pada 2022 ada 34 kasus dengan lima kematian. Di tahun berikutnya meningkat 84 kasus dengan lima kematian. ”Kemudian tahun ini masih 16 kasus tanpa kematian," ujar Ismono, Kamis (25/7).
Dikatakannya, petani rentan terkena bakteri kencing tikus karena populasi tikus yang banyak terdapat di ladang persawahan. Dalam tubuh tikus sendiri terdapat bakteri leptospira yang rentan terinfeksi oleh para petani.
Dalam menekan angka kematian, pihaknya melakukan deteksi dini dan tata laksana setiap kasus leptospirosis. Upaya tersebut, kata Ismono, berjalan dengan cukup baik. Meningkatkan peran Satgas Onehealth (OH) kapanewon dalam edukasi, informasi dan bahkan deteksi dini penyakit leptospirosis serta membentuk Faskes Survailance sentinel leptospirosis. “Difasilitasi pemeriksaan sampel untuk suspek kasus," jelasnya.
Selain itu, pihaknya menyiapkan serta mendistribusikan reagen rapid test pemeriksaan leptospira agar cepat bisa diperoleh sehingga tatalaksana kasus tidak terlambat. "Sudah terbentuk satgas OH tingkat kabupaten sampai dengan kapanewon. masing-masing mempunya peran dan tupoksi dalam pelayanan pasien leptospirosis,"jelasnya. (ndi/din)