RADAR JOGJA - Imbas kemarau panjang, sejumlah telaga di Kabupaten Gunungkidul ikut mengering. Setidaknya, ada dua telaga yang biasanya jadi sumber air warga Kalurahan Karangwuni, Rongkop, Gunungkidul kini tidak dapat lagi dimanfaatkan.
Debit air yang sedikit dan keruh membuat warga setempat terpaksa membeli air dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng). Ketua RT 18 Padukuhan Karangwuni Ayup Sunata mengatakan, air dari telaga tersebut berasal dari tadah hujan yang dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun karena hujan tak kunjung turun membuat sejumlah warganya memilih untuk membeli air. "Saya sendiri beli air sudah 15 tangki dalam dua bulan terakhir seharga Rp 110.000 per-tangkinya, karena hujan tak kunjung turun," ujar Ayup kepada awak media, Senin (1/6).
Pembelian air dalam jumlah banyak tersebut, kata Ayup, untuk menunjang usaha rumah makannya. Dikatakannya, air tadah hujan diolah oleh warga setempat untuk air minum, memasak dan mencuci pakaian. Dia mengatakan, wilayahnya jarang terdapat mata air.
Beberapa warga telah berupaya untuk membor sumur namun mata air tak kunjung ditemukan. Selama ini, warga memanfaatkan air telagan dan PDAM. "Semenjak kemarau, air PDAM jarang sekali mengalir, biasanya hanya sekali dalam seminggu," tuturnya.
Kasi Umum PDAM Tirta Handayani Cabang Bribin Agung Rustanto mengakui, pengaliran air untuk beberapa padukuhan di Kalurahan Karangwuni dilakukan secara bergiliran."Dalam seminggu kami alirkan secara bergiliran dan sudah ada jadwalnya masing-masing padukuhan," ujar Agung.
Menurutnya, pengaliran air secara bergiliran lantaran beberapa pemukiman di Kalurahan Karangwuni terletak di daerah ketinggian sehingga tidak dapat mengalirkan air setiap harinya.
Sebelumnya, BPBD Gunungkidul menyampaikan, krisis air bersih telah dirasakan sejumlah warga yang bermukim di sektor Selatan Gunungkidul. Bantuan ait bersih telah disalurkan di beberapa Kapanewon di antaranya, Kapanewon Panggang, Tepus dan Rongkop. (ndi/pra)