RADAR JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat ada 14 kejadian kebakaran sepanjang musim kemarau dari Mei sampai Juni ini.
Selama kemarau panjang ini, si Jago Merah melahap belasan unit bangunan yang terdiri dari rumah maupun kandang ternak warga. Beberapa insiden tersebut terjadi akibat kelalaian warga yang membakar sampah namun tanpa pengawasan.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Pemadam Kebakaran (Damkar) BPBD Gunungkidul Handoko mengakui adanya peningkatan kasus kebakaran sepanjang musim kemarau beberapa bulan terakhir. Jika dilihat dari kejadian di Januari sampai April, rata-rata hanya dua kasus kebakaran dalam sebulan. “Memasuki kemarau Mei hingga sekarang naik menjadi tujuh kasus perbulannya," ujar Handoko, kemarin (28/2).
Baca Juga: Sering Turun Hujan Ditengah Musim Kemarau, BMKG Yogyakarta Ungkap Penyebab Sekaligus Berbagai Potensi Bencananya!
Dia menambahkan, terik matahari bukanlah salah satu penyebab peningkatan kasus terjadi. Melainkan, faktor kelalaian warga ketika melakukan pembakaran secara sengaja namun tanpa pengawasan. Misalnya bakar sampah. Warga kerap kali langsung meninggalkan dan tidak memastikan kembali api benar-benar padam.”Akibatnya api bisa saja merembet entah itu ke rumah maupun ke kandang ternak," tuturnya.
Beruntungnya, kejadian-kejadian kebakaran dapat ditangani oleh pihaknya beserta masyarakat yang ikut gotong royong dalam memadamkan api. Dia juga memastikan, belasan kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. "Tapi bangunan-bangunan yang terbakar memunculkan kerugian materil mencapai ratusan juta rupiah," ungkapnya.
Menurutnya, hawa panas pada musim kemarau dapat memicu kobaran api jika warga membakar sampah secara sembarangan. Apalagi, tidak memerhatikan jarak bangunan dan lokasi pembakaran. "Sampah yang kondisi kering, serta angin dapat memicu kobaran api yang membesar serta merembet ke bangunan-bangunan terdekat," jelasnya.
Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, pihaknya mengimbau warga untuk lebih berhati-hati dalam membakar sampah agar tidak menimbulkan kejadian-kejadian yang dapat merugikan. "Terutama mencegah terjadinya kebakaran dalam penggunaan api dalam kegiatan sehari-hari, kiranya selalu diawasi dan dipastikan apinya benar-benar padam," ujar Purwono.
Pihaknya berkomitmen untuk selalu siaga dalam menindaklanjuti laporan masyarakat terhadap kejadian-kejadian kebakaran. Personel maupun armada disiapkan dalam penanganan menjinakkan api. "Personel dan armada kami selalu siap, namun peran masyarakat dalam pencegahan juga sangat diperlukan," tandasnya. (ndi/din)
Editor : Satria Pradika