RADAR JOGJA - Tarik diri Raffi Ahmad dari proyek pembangunan beach club di kawasan Pantai Krakal, menimbulkan kekecewaan warga setempat. Meskipun baru sebatas rencana, proyek ini menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk mempersiapkan peningkatan ekonomi. Namun semuanya pupus usai Raffi Ahmad menyatakan mundur hingga berpotensi bataknya proyek tersebut.
Beach Club Bekizart (BCB) milik Sultan Andara itu rencananya diproyeksikan berdiri di lahan seluas 10 hektare dengan memiliki 300 villa dan tiga restoran. Berlokasi di Kalurahan Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul.
Sebelumnya, Walhi Yogyakarta menilai pembangunan BCB dapat memperparah kekeringan dan merusak kawasan ekosistem karst di wilayah itu. Usai mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan, Raffi Ahmad memutuskan untuk menarik diri dari pembangunan beach club yang digadang-gadang terbesar se-DIY itu.
Warga Ngestirejo, Bardi, 54, mengaku setuju dan menjadi harapan baru bagi mereka dalam meningkatkan perekonomian. Bahkan sejak awal datangnya ayah Rafathar itu ke wilayahnya, tidak mendapatkan penolakan dari warga setempat.
"Kami warga sini menerima, malah orang luar daerah yang menolak, bahkan kami senang dengan pembangunan itu (BCB) karena berpotensi meningkatkan ekonomi warga," ujar Bardi kepada wartawan Kamis (13/6).
Dia menambahkan, dampak positif adanya BCB dapat memunculkan peluang kerja yang baru bagi warga setempat. "Apalagi sebelum-sebelumnya banyak warga sini yang harus bekerja jauh-jauh ke Jogja. Dengan adanya proyek ini, kami bisa bekerja di tempat kami sendiri," tambahnya.
Sementara itu, Lurah Ngestirejo Wahyu Suhendri menjelaskan, kedatangan Raffi Ahmad saat meninjau lokasi pembangunan juga menghadirkan warga. Pihak investor juga membeli lahan itu dari warga setempat.
"Warga merespons senang dengan adanya pembangunan itu, karena lingkungan akan menjadi ramai dan membuka lapangan pekerjaan lainnya," ujar Wahyu.
Menanggapi dampak kekeringan akibat investasi itu, Wahyu mengaku warga telah merasakan kekeringan meskipun sebelum adanya proyek BCB. "Kalau bicara kekeringan bukan sekarang, sejak dulu biasa. Dan warga sudah beradapatsi, bahkan menyiasati kekeringan karena daerah kami memang kekurangan air," ungkapnya.
Untuk ke depan, Wahyu melanjutkan, warga menerima investor-investor yang akan masuk. Tentunya dengan menaati peraturan yang berlaku serta berdampak baik untuk masyarakat sekitar. (ndi/laz)