RADAR JOGJA - Kekeringan bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Sebagian wilayah yang terdiri dari batuan karst menjadi lokasi sulitnya bagi masyarakat mendapatkan sumber air.
Salah satunya, penduduk Kalurahan Bleberan, Kapanewon Playen, Gunungkidul. Sejak bertahun-tahun lamanya mereka merasakan kekeringan ekstrem. Sumber air tak kunjung ditemukan meskipun menggali sumur dengan kedalaman hingga puluhan meter.
Lurah Bleberan Bambang Fajarudin menceritakan, sulitnya air terus dirasakan dari generasi ke generasi warga setempat. Bahkan, saat dirinya masih berusia anak-anak.
"Sejak saya SD sekitar 1980-an kami sudah rasakan (kesulitan air bersih), untuk minum saja kami harus memikul ember dan menempuh jarak sekitar 1,5 Kilometer dengan berjalan kaki," ujar Bambang kepada Radar Jogja, Jumat (7/6).
Sumber air saat itu yakni mata air Kedungpoh yang terletak di Padukuhan Mungeran. Semua anak-anak, kata Bambang, setiap harinya diwajibkan oleh orang tua untuk mengambil air usai pulang dari sekolah.
Pada 1993 silam, warga Padukuhan Mungeran akhirnya melakukan musyawarah untuk mencari jalan keluar. Warga secara swadaya membeli mesin diesel untuk mengaliri air ke bak penampungan yang telah dibangun saat itu.
Karena keterbatasan biaya, warga akhirnya membuat bak penampungan sekitar 700 meter dari sumber mata air Kedungpoh. Dengan begitu, Jarak yang ditempuh hanya 800 meter untuk mengambil air. "Itu masih kami pikul dengan berjalan kaki dari bak penampungan ke rumah," tuturnya.
Namun, sumber mata air Kedungpoh tidak dapat menjangkau secara keseluruhan warga Kalurahan Bleberan. Pemanfaatan sumber air bersih hanya dimanfaatkan tiga padukuhan di sekitar mata air itu.
Pada 2007, perangkat desa setempat membentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dengan mengelola sumber air bersih yang berada di mata air Jambe. "Jarak dari pemukiman sekitar enam kilometer, dengan menarik air menggunakan mesin tenaga surya pada saat itu," lanjutnya.
Permasalahan kekeringan di Kalurahan Bleberan seakan sirna semenjak perangkat desa setempat bekerja sama dengan pemerintah provinsi Saemaeul Korea Selatan tentang peningkatan fasilitas pengadaan air bersih dengan tenaga listrik pada 2018 silam. "Dengan mengubah aliran listrik satu phase menjadi tiga phase untuk memompa air yang debit yang tinggi dialiri ke rumah-rumah warga," tuturnya.
Kini masyarakat Kalurahan Bleberan terbebas dari dampak kekeringan. Meskipun musim kemarau panjang, kekeringan nampak tidak terasa bagi mereka dengan memanfaatkan dua sumber air yang ada di Kalurahan Bleberan.
Bangkit dari dampak kekeringan menjadi momentum bagi mereka dengan perayaan yang dinamakan Merti Sumber. Bambang menjelaskan perayaan tersebut dengan merawat alam, menanam pohon dan konservasi sungai. "Dengan tujuan agar sumber air dapat bermanfaat bagi generasi ke generasi ke depannya, Merti Sumber juga sebagai bentuk rasa syukur kami kepada Tuhan atas keberkahan yang melimpah," tuturnya.(ndi/pra)
Editor : Satria Pradika