Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hujan Makin Menghilang, Petani di Gunungkidul Mulai Keluhkan Kesulitan Air

Andi May • Senin, 3 Juni 2024 | 02:30 WIB

KENDALA TAHUNAN: Lahan pertanian nampak kering akibat kemarau melanda di Dusun Legundi, Kalurahan Girimulyo, Panggang, Kabupaten Gunungkidul.
KENDALA TAHUNAN: Lahan pertanian nampak kering akibat kemarau melanda di Dusun Legundi, Kalurahan Girimulyo, Panggang, Kabupaten Gunungkidul.
 

RADAR JOGJA - Tidak adanya akses sumber air membuat para petani di Dusun Legundi, Kalurahan Girimulyo, Kapanewon Panggang, Gunungkidul kesulitan untuk bertani.


Selama bertahun-bertahun para petani di wilayah itu selalu mengandalkan air hujan sebagai sumber air untuk tanaman mereka. Memasuki musim kemarau, dampak kekeringan sangat terasa bagi mereka.


Salah seorang Petani bernam Mianti (38) mengakui sudah dua bulan lamanya hujan tak kunjung turun. Wadah air tadah hujan yang menjadi sumber air utama pun tak kunjung terisi. "Sudah dua bulan kami rasakan (kekeringan), semenjak hujan tidak turun-turun, kalaupun turun paling cuma gerimis," ujar Mianti saat diwawancarai, Minggu (2/6/2024).


Dia mengaku bahwa ada sumur galian yang digunakan untuk mengairi sawah mereka. Namun debit air yang terbatas membuat mereka kesulitan untuk menyiram tanaman padi mereka. "Apalagi kalau musim kemarau seperti ini, air sumur pun terbatas, selama ini kami hanya mengharapkan air hasil tadah hujan," ungkapnya.


Petani lainnya Sariman juga mengaku, tanaman padi miliknya juga tidak maksimal karena hujan yang tak kunjung turun selama dua bulan terakhir. Akibatnya, tanaman padi mulai mengering dan bulir-bulir tak berisi. "Tanaman padi tidak ada isinya atau gabug, karena hujan tidak turun," ujar Sariman.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Purwono mengakui, dampak kekeringan terasa di sejumlah wilayah Kapanewon Panggang. Dikatakannya, beberapa kalurahan telah mengajukan permintaan air bersih. "Pengajuannya air bersih dan peruntukannya untuk kebutuhan rumah tangga, kalau untuk pertanian belum ada," ujar Purwono.


Disebutkannya, pihaknya menyiapkan 1.000 tangki untuk mengatasi dampak kekeringan. Ribuan tangki air bersih akan didistribusikan menggunakan armada yang telah disiapkan. "Tergantung permintaan masing-masing wilayah, kami siap mendistribusikan air bersih," tuturnya.


Selain itu juga, masing-masing perangkat kapanewon setempat juga memiliki anggaran untuk penanganan kekeringan. Nominal anggarannya juga berbeda-beda tiap wilayah. (ndi/din)

Editor : Satria Pradika
#sumber air #Kesulitan Air #lahan pertanian #kering #BPBD #bertani #musim kemarau