Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melihat Hutan Nangka di Kalurahan Jati Ayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Dari 98 Hektare, Baru DItanami Delapan Hektare

Heru Pratomo • Selasa, 21 Mei 2024 | 04:35 WIB

SEPI: Kondisi di Hutan Nangka yang terletak Kalurahan Jati Ayu, Karangmojo, Gunungkidul disiapkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Gudeg Jogja.
SEPI: Kondisi di Hutan Nangka yang terletak Kalurahan Jati Ayu, Karangmojo, Gunungkidul disiapkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Gudeg Jogja.
 

RADAR JOGJA - Antisipasi ketergantungan pada nangka muda taau gori dari luar DIY sudah dilakukan. Hutan nangka yang terletak Kalurahan Jati Ayu, Karangmojo, Gunungkidul disiapkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Gudeg Jogja.


ANDI MAY, Gunungkidul


Seluas 98 hektar lahan hutan nangka terlihat rimbun. Meski pohonnya belum besar. Berbuah pun belum banyak. Tapi cikal bakal swasembada gori di DIY disiapkan di sana.


Ketua Kelompok Tani Wanaboga Jati Ayu Sukrisno mengatakan, baru delapan hektar yang ditanami pohon-pohon nangka berbagai jenis dari seluruh daerah di Indonesia. "Sampai saat ini, hasil tani masih dikelola sendiri oleh kami, dan belum pernah kami distribusikan ke Kota Jogja maupun daerah-daerah lain," ujar Sukrisno kepada Radar Jogja, Senin (20/5).


Pohon-pohon nangka yang berada di lahan hektar tersebut diperuntukan untuk penelitian yang dilakukan akademisi Universitas Negeri Gadjah Mada (UGM). Pihaknya mengakui telah beberapa kali melakukan panen. "Prosesnya juga belum maksimal, kami menunggu 90 hektar lainnya untuk dapat merealisasikan tujuan dari hutan nangka yang kami kelola," jelasnya.


Pohon-pohon nangka tersebut, kata Sukrisno, ditanam oleh akademisi UGM untuk kebutuhan penelitian. Dua tahun masa panen, hasil tani diserahkan ke kelompok tani wilayah setempat.


Sukrisno menerangkan, lahan puluhan hektar tersebut akan ditanami pohon nangka secara menyeluruh oleh Dinas Pertanian sebagai sumber bahan baku gudeng di Jogja. Pihaknya juga mengetahui hingga saat ini nangka-nangka yang dijadikan bahan baku gudeg berasal dari luar daerah.

"Sepengatahuan saya, penentuan harga buah nangka tergantung beratnya, kalau per-kilogram biasanya dipatok dengan harga Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu, tapi satu buah nangka bisa mencapai 5 sampai 6 kilogram," jelasnya.


Hutan Nangka di Karangmojo dikelola oleh kelompok tani dengan jumlah anggota 200 orang yang berasal dari tiga kapanewon. Selain untuk kebutuhan produksi bahan baku gudeg, hutan tersebut nantinya akan dijadikan edukasi wisata penanaman pertanian nangka.

Mengenai penanaman kembali pohon nangka, masih menunggu regulasi dan arahan Pemprov DIY. “Kemungkinan dalam waktu dekat akan ditanami secara keseluruhan," ucapnya.


Mengenai kualitas buah yang dihasilkan, sangat bergantung pada proses perawatan pohon nangka itu sendiri. Masa panen sebelumnya, kata Sukrisno, beberapa buah terserang oleh hama sehingga tidak dapat dikonsumsi ataupun digunakan. "Makanya kami selalu bungkus dengan karung, agar tidak terserang oleh hama," jelasnya.

Terpisah, Kepala Kantor Bagian Daerah Hutan Karangmojo Eko Purwanto membenarkan, produksi pertanian hutan nangka belum dapat disuplai karena keterbatasan hasil tani. "Belum pernah panen skala besar, pohon-pohon nangka yang ditanam kemarin merupakan sampel dari UGM," ujar Eko.


Pihaknya selalu berkoordinasi dengan kelompok tani dalam pengelolaan hutan nangka di Kalurahan Jati Ayu. Eko juga mengakui pohon-pohon nangka tersebut diperuntukan sebagai bahan baku dari gudeg Jogja. "Namun sampai sekarang belum dapat terealisasi. kami cenderung lebih ke pengawasan bersama kelompok tani setempat," tuturnya. (pra)

Editor : Satria Pradika
#Hutan Nangka #Pemprov DIY #UGM #gudeg jogja #Gunungkidul #gori #kabupaten gunungkidul