RADAR JOGJA - Di tengah keributan politik di Jakarta karena isu kecurangan Pemilu dan Hak Angket, Anggota MPR RI GKR Hemas mengingatkan pertentangan politik dalam bentuk apapun tidak boleh mengacaukan kesejahteraan dan ketenangan masyarakat.
"Posisi Presiden, Anggota DPR, ataupun legislatif yang lain hanya bersifat sementara. Tanggung jawab kepada rakyat dan Tuhan Yang Maha Esa bersifat selamanya," tegas Hemas dalam sosialisasi Pancasila di Padukuhan Piji, Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul Rabu (6/3/2024).
GKR Hemas, Anggota DPD RI yang juga Ratu Keraton Yogyakarta mendengarkan semua pengaduan dengan baik dan mengingatkan bahwa Pancasila selalu menjadi dasar untuk mendahulukan kepentingan rakyat.
"Sila ke 5 dari Pancasila berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila ini seharusnya menjadi jaminan bagi seluruh rakyat kecil agar tetap mendapatkan perhatian dari para elit politik di tengah perebutan kekuasaan," ungkapnya.
Dalam sambutannya di depan lebih dari 150 orang yang hadir Hemas menekankan perlunya dialog yang terus menerus dan terbuka antara masyarakat dengan elit politik.
Dengan berapi-api Hemas menjelaskan mengenai Hak Angket yang diajukan oleh PKS, PKB, dan PDIP dan menyebabkan banyak pertentangan pemikiran di masyarakat. Demo di luar Gedung DPR juga menimbulkan bentrok karena ada yang mendukung dan ada yang menolak. Sebaliknya PPP dan Nasdem yang semula diperkirakan akan ikut, ternyata memilih menolak Hak Angket.
Sidang Paripurna DPR RI tidak dihadiri oleh Ketua, sementara Presiden sedang pergi ke Australia. Elit politik sepertinya lupa dengan kenaikan harga bahan pangan. Di Jogja harga beras premium menyentuh angka Rp 16.620 sedangkan beras medium mencapai Rp 15.070 per kilogram. Harga daging ayam juga naik menjadi Rp 38.000 dan gula pasir naik menjadi Rp 17.500.
Baca Juga: Peringati Hari Jadi, Jajaran Pemprov DIY Ziarah Ke Makam Pendiri Mataram
“Harga pangan lebih penting daripada masalah kursi. Perut rakyat harus diisi. Partai yang tidak setuju harus digembosi. Otak para politisi harus diberi nutrisi,” tegas Hemas.
Menjawab pertanyaan tentang kenaikan harga, Hemas menjelaskan tentang resesi pangan dunia, el nino, dan masa persiapan bulan puasa.
Menurut dia, sebenarnya kenaikan harga terjadi setiap tahun, ketika banyak orang Jogja pulang kampung untuk Nyadran. Banyaknya permintaan pangan setiap memasuki puasa menyebabkan harga naik. "Tahun ini keadaannya diperburuk dengan adanya globalisasi resesi pangan dan perubahan iklim," paparnya.
Editor : Heru Pratomo