Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Manfaatkan Dana Desa, Warga Padukuhan Blarangan Gunungkidul Gelar Tradisi Nyadran Ingkung Ayam di Makan Penggawa Majapahit

Andi May • Senin, 26 Februari 2024 | 21:34 WIB

 

Tradisi Nyadran Ingkung Ayam di makam Raden Mas Djoyo Dikromo Secuco Ludiro, Padukuhan Blarangan, Ponjong, Gunungkidul, Senin (26/2).
Tradisi Nyadran Ingkung Ayam di makam Raden Mas Djoyo Dikromo Secuco Ludiro, Padukuhan Blarangan, Ponjong, Gunungkidul, Senin (26/2).
GUNUNGKIDUL - Masyarakat Padukuhan Blarangan, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul menggelar tradisi 'Nyadran Sedekah Ingkung Ayam' di makam Raden Mas Djoyo Dikromo Secuco Ludiro, Senin (26/2) siang.

Tradisi yang berusia ratusan tahun itu dipercaya warga setempat sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Lurah Sidorejo Sidiq Nur Safii mengatakan, kearifan lokal yang digelar menggunakan dana desa dan swadaya gotong royong warga Padukuhan Blarangan. Tradisi Nyadran dilakukan setiap tahun sekali dalam tanggalan Jawa 15 Ruwah.

"Dalam tradisi Nyadran, masyarakat membawa ayam ingkung, nasi uduk dan uborampe lainnya," ujar Sidiq kepada awak media.

Sidiq menjelaskan, tradisi Nyadran sebagai cikal bakal berdirinya Padukuhan Blarangan di Bumi Handayani. Ia bercerita, dahulu kala ada dua penggawa Majapahit lari dari kerajaan.

"Yakni, Tumenggung Wayang dan Tumenggung Secuco Ludiro lari dari kejaran prajurit kerajaan," ucapnya.

Namun begitu, Sidiq melanjutkan, kedua penggawa kerajaan Majapahit itu menolak untuk kembali hingga akhirnya pertempuran dan keduanya pun dikepung atau dikalang.

Peristiwa pertempuran itu diceritakan terjadi di Padukuhan Kalangan, Karangmojo. Sidiq mengungkapkan Tumenggung Wayang kala itu sulit untuk ditaklukan.

"Namun tubuh Tumenggung Wayang atau Ki Wayang terpisah menjadi tiga bagian saat pertempuran hingga akhirnya tidak berdaya," ucapnya.

Wafatnya Ki Wayang kala itu, lanjut Sidiq, memicu peperangan hingga pertumpahan darah pun terjadi di daerah yang disebut Blarangan dari kata Mbalarah Getih Blarah.

Tumenggung Secuco Ludiro yang masih bertahan hidup mengajarkan cocok tanam dan menjadikan daerah Blarangan subur makmur.

"Hingga akhirnya Ki Seco wafat dan dikebumikan di Blarangan," tutupnya.

Sementara itu, tradisi Nyadran yang digelar warga Padukuhan Blarangan turut dihadir Bupati Gunungkidul Sunaryanta.

Sunaryanta mengaku kagum dengan semangat masyarakat dalam melestarikan tradisi yang sudah berusia ratusan tahun itu.

"Kearifan lokal yang masih dijaga didalamnya menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong," ujar Sunaryanta.

Menurutnya, tradisi Nyadran dapat menumbuhkan kerukunan dan kebersamaan antar warga. "Banyak tradisi di Kabupaten Gunungkidul yang masih dilestarikan hingga saat ini," pungkasnya. 

Editor : Bahana.
#Gunungkidul #nyadran #ingkung ayam