GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mengungkapkan telah terjadi kenaikan inflasi sebesar 2,42 persen pada Januari 2024.
Kenaikan Inflasi 2,42 persen itu berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,8 persen.
Kepala BPS Gunungkidul Joko Prayitono mengatakan, naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran menjadi penyebab dari kenaikan inflasi di Kabupaten Gunungkidul.
"Seperti naiknya harga kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,48 persen," ujar Joko Prayitno kepada awak media, Sabtu (3/2).
Tak hanya itu, kenaikan harga juga ditunjukkan pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,80 persen.
Begitu pula dengan kepompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,89 persen.
"Selain itu juga, kenaikan harga terjadi pada kelompok penyediaanan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,49 persen, kelompok pendidikan sebesar 0,07 persen," tuturnya.
Pada kelompok pakaian dan alas kaki, Joko Prayitno mengatakan, kenaikan harga tidak terlalu tinggi yakni sebesar 0,02 persen.
Joko menjelaskan, penurunan IHK terdapat pada kelompok pengeluaran yaitu, rekrasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,41 persen.
Sedangkan transportasi mengalami penurunan sebesar 0,29 persen.
"Kelompok bahan bakar, air, listrik mengalami penurunan indeks sebesar 0,1 persen," ucapnya.
Untuk kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan penurunan sebesar 0,03 persen.
Joko juga menjelaskan tingkat deflasi month to month (m-to-m) dan year to date (y-to-d) Kabupaten Gunungkidul masing-masing sebesar 0,08 persen pada Januari 2024.
Sementara itu, kenaikan harga secara rutin perharinya terdapat pada komoditas beras di Pasar Argosari Gunungkidul. Para pedagang mengeluhkan pendapatan mulai menurun akibat kenaikan harga.
Pedagang Beras Surojo, 55, mengatakan, harga beras selalu mengalami kenaikan sejak Desember 2023 lalu. Ia menyebutkan, harga beras selalu naik tiap harinya sekitar Rp 200.
"Setiap hari beras naik Rp 200, sehingga konsumen biasanya beli dalam jumlah yang banyak kini mulai menghemat," ujar Surojo saat ditemui Radar Jogja.
Maka dari itu, Ia harus menaikan harga beras setiap dua minggunya untuk dapat menentukan harga yang sesuai.
"Sebelumnya saya jual Rp 75ribu perlima kilologram untuk kualitas beras yang bagus, sekarang naiknya dapat mencapai Rp 80 ribu per lima kilogramnya," jelasnya.
Ia menghawatirkan, dengan harga beras yang selalu naik dapat mempengaruhi penurunan jumlah konsumen di pasar.
"Walaupun sekarang konsumen di pasar masih stabil, namun mulai mengurangi kuantitas komoditas yang dibeli," tuturnya.
Surojo mengaku tidak mengetahui penyebab dari naiknya harga komoditas pangan itu.
Ia juga menyebut beras yang diterimanya dari distributor tidak pernah berkurang atau langka. (cr6)
Editor : Amin Surachmad