SLEMAN - Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Dody Wibowo, M.A. menanggapi kasus dugaan mesum yang dilakukan dua oknum guru Sekolah Dasar (SD) di Gunungkidul. Menurut dia, kasus tersebut bisa dicegah jika manajemen sekolah dikelola dengan baik.
Dosen Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) ini menyatakan orang dengan profesi guru seharusnya selalu ingat dengan ungkapan 'guru itu digugu lan ditiru'.
"Kita perlu mengingat makna dari guru, yakni seseorang yang didengar dan juga dicontoh. Semangat itu yang seharusnya dimiliki oleh guru," kata Dody Wibowo Jumat (27/1/2024).
Di mana pun guru berada, baik dalam lingkungan sekolah maupun luar lingkungan sekolah, publik akan selalu melihat mereka sebagai teladan.
"Sehingga guru harus benar-benar memperhatikan tingkah lakunya, karena identitas guru itu akan selalu melekat kepada diri mereka di manapun dia berada," ujarnya.
Guru punya peran besar dalam ikut membentuk pikiran dan kepribadian siswa melalui apa yang diucapkan dan dilakukan. Diakui, profesi guru memang sangat berat tuntutannya. Oleh karena itu, guru harus sangat berhati-hati dalam bertindak.
Ketika muncul kasus guru mesum, artinya kedua oknum guru tersebut belum bisa memaknai dengan baik profesinya sebagai guru.
Baca Juga: 24 Tahun Berlalu, Ayu Azhari dan Marcellino Lefrandt Reuni dalam Proyek Sinetron Baru Berjudul...
"Kenapa hal-hal seperti ini (mesum) bisa terjadi? Ya itu tadi menurut saya karena mereka belum bisa memaknai dengan benar apa sih makna profesi guru," ucapnya.
Memang, setiap individu guru memiliki privasi sebagai orang dewasa. Tapi seharusnya mereka ingat bahwa mereka adalah guru, profesi yang mulia.
"Melakukannya (asusila) di dalam lingkungan sekolah jelas tidak benar. Seharusnya kedua oknum guru ini menjaga lingkungan sekolah dari tindaan yang tidak terpuji," terangnya.
Menurut dia, lingkungan sekolah merupakan miniatur dari masyarakat. Sekolah didesain sedemikian rupa dengan dengan idealisme mengenai bagaimana masyarakat seharusnya berpikir dan berperilaku. Sehingga semua guru harus memiliki visi bahwa saat siswa mereka lulus, siswa-siswa ini akan memiliki pola pikir dan perilaku yang baik.
"Tapi ini (mesum) kok di dalam lingkungan sekolah. Gurunya sendiri melakukan hal yang tidak ideal, bahkan yang seharusnya tidak dilakukan," tegasnya.
Kata Dody, akar masalahnya ada di situ. Kalau guru bisa memaknai makna profesi guru dengan benar dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh, peristiwa tersebut tidak akan terjadi.
"Untuk menjaga guru agar selalu menjadi teladan, manajemen sekolah punya peran yang sangat penting," terangnya.
Manajemen sekolah, dengan kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi, harus berperan sebagai pencegah beragam tindakan yang tidak sesuai dengan visi sekolah.
"Kepala sekolah harus selalu mengingatkan guru-gurunya mengenai visi sekolah dan bagaimana mereka harus bersikap dan berperilaku," ucapnya.
Sekolah itu seperti sebuah kapal. Orang dewasa yang ada di dalamnya bertugas sebagai kru kapal dengan kepala sekolah sebagai nakhoda. Sedangkan siswa kita bayangkan sebagai penumpang yang akan diantar ke tujuan. Nakhoda dan kru kapal harus satu suara ketika berlayar menuju tujuan dan melayani penumpangnya dengan baik agar mereka bisa sampai di tujuan dengan selamat.
Baca Juga: Wedhus Gembel Merapi Keluar Pasca Hujan Deras, Ini Arah Luncurannya . . .
“Jadi, kepala sekolah, guru, dan orang dewasa lainnya di sekolah, seperti petugas kantin, petugas kebersihan, dan petugas keamanan harus satu suara mengenai bagaimana mereka harus bersikap dan berperilaku di dalam lingkungan sekolah agar siswa merasa nyaman di sekolah karena mendapat teladan yang baik," ungkapnya.
Baca Juga: Angin Segar, Sebuah Peneltian Tidak Temukan Kasus Kanker Serviks Pada Wanita Yang Sudah Vaksin HPV
Harapannya, ketika siswa lulus, mereka akan selalu ingat pernah mendapat teladan berupa pemikiran dan perilaku yang positif dari guru dan orang dewasa lainnya di sekolah. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin