RADAR JOGJA - Jembatan Pandansimo sepanjang 1.900 meter mulai dibangun. Jembatan itu menghubungkan Kapanewon Srandakan, Bantul, di sisi timur, dan Kapanewon Galur, Kulon Progo, di sisi barat mulai dibangun.
Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional, jembatan Pandansimo akan menjadi sarana pendukung mobilitas dan memperkuat konektivitas wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakkarta (DIY).
Selain itu juga memperkuat konektivitas Jawa bagian Selatan, yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur.
Gubernur DIY Hamengku Buwono X turut menyematkan jargon dalam pembangunan ini, yaitu Binanguning Marga-Pambukaning Praja.
Pal ini memiliki makna pembangunan jembatan Pandansimo menjadi jalan pembuka kesejahteraan, bagi masyarakat Bantul, dengan semangat Projotamansari. Juga, bagi Kulonprogo dengan semangat Binangun-nya.
Tak hanya memfasilitasi pengendara kendaraan bermotor, jembatan ini juga memanjakaan para pejalan kaki.
Terbukti dengan adanya rencana pembangunan kawasan pedestrian di sisi kiri dan kanan jalan.
Dibangun oleh Kementerian PUPR, jembatan ini rencananya akan rampung pada 31 Desember 2024.
Berikut Profil Jembatan Pandansimo.
Direncanakan sejak 2013 dan dibangun 2024.
Kepala BBPJN Jateng-DIY Rien Marlia mengatakan, proses penyiapan pembangunan jembatan Pandansimo sudah berlangsung sejak lama.
Tahun 2013 hingga 2015, dilakukan pembebasan lahan oleh Pemda DIY, serta penyiapan dokumen Amdal. Sementara, review detailed engineering design (DED) dilakukan pada tahun 2022.
Jembatan Pandansimo akan memiliki panjang 1.900 meter. Terdiri dari jalan pendekat sepanjang 625 meter, slab on pile sepanjang 690 dan jembatan utama dengan bentang 675 meter.
Nilai kontrak sebesar Rp 814,8 miliar dan dilaksanakan oleh PT Adikarya Persero, PT Sumber Wijaya Sakti.
Kerja sama operasi selama 408 hari kalender dengan Rencana Final Hand Over (PHO) di tanggal 31 Desember 2024.
Berada di Lokasi Labil dan Potensi Likuifaksi, Siasati dengan Teknologi LRB.
Lokasi jembatan Pandansimo yang berada pada karakteristik tanah yang berpasir dan muka air tanah dangkal.
Lokasi ini dekat dengan sumber gempa Sesar Opak dengan radius kurang dari 10 kilometer, menyebabkan jembatan Pandansimo memiliki kerentanan terhadap potensi likuifaksi.
Jembatan Pandansimo akan menggunakan teknologi LRB atau Lead Rubber Bearing pada struktur bawah jembatan yang fungsinya untuk meredam gempa.
LRB ini mampu mengembalikan struktur yang ditopangnya pada posisi semula setelah gempa berakhir.
Jembatan Pandansimo juga nantinya akan dipercantik dengan pemasangan ornamen yang mengusung kearifan budaya lokal
Ikon Wisata dan Meningkatkan Perekonomian Masyarakat.
Pembangunan jembatan Pandansimo masuk pada paket kegiatan Inpres Jalan Daerah Tahap 1 yang merupakan bagian dari rangkaian jalur Trans Selatan Jawa.
Pembangunan ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan pemerataan ekonomi di bagian Selatan Jawa.
Jembatan Pandansimo tidak hanya menjadi penghubung antar wilayah tetapi juga menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat pesisir selatan DIY.
Baca Juga: Bikin Ngirii, Doyoung NCT Unggah Foto Bareng Cipung Kelewat Gemas
Juga, bisa menjadi wadah berkumpulnya masyarakat lintas sosial sehingga terjadi interaksi sosial yang intens.
Lebih jauh lagi, dengan tersedianya ruang terbuka hijau dan pedestrian dapat membentuk budaya sehat bagi masyarakat dengan memberikan ruang kegiatan olahraga maupun kegiatan sosial lainnya. (dwi)
Editor : Amin Surachmad