GUNUNGKIDUL - Pantai Ngobaran salah satu destinasi wisata pantai unggulan yang terletak di Selatan Kabupaten Gunungkidul, tepatnya di Kapanewon Saptosari.
Selain tempat rekreasi, Pantai Ngobaran juga dikenal sebagai tempat peribadatan umat Hindu di Pulau Jawa.
Meski dikenal dengan banyaknya bangunan-bangunan khas umat Hindu, sisi menarik dari Pantai Ngobaran terdapat masjid yang berada di bibir pantai, yakni, Masjid Aolia.
Masjid dengan desain bangunan kuno itu memiliki tempat ibadah dengan posisi imam tepat menghadap laut Selatan Jawa.
Meski banyaknya kontroversi mengenai lokasi kiblat yang dinilai salah, tetapi terdapat penjelasan mengenai struktur bangunan tempat ibadah itu.
Warga Saptosari Iswanto yang juga sebagai pedagang selama puluhan tahun di Pantai Ngobaran mengaku mengetahui sejarah bangunan masjid Aolia itu.
"Masjid itu dibangun pada Tahun 2005 silam dan didirikan oleh seorang Kyai yang biasa dipanggil Mbah Benu," ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (12/1/2024).
Iswanto menepis tanggapan banyak orang yang mengira kiblat dari tempat ibadah itu menghadap ke Selatan.
Ia menjelaskan bangunan tersebut memang menghadap laut Selatan Jawa namun tidak dijadikan kiblat ketika sedang sembahyang.
"Jadi bagian yang di kira tempat imam di dalam masjid itu bukanlan lokasi imam, melainkan tempat berdoa. Karena kebiasaan dari Kejawen, berdoa menghadap Selatan, jadi itu tempat berdoa bukan tempat imam ketika memimpin sholat," terangnya.
Sebelum berdirinya masjid tersebut, lanjutnya, lokasi tersebut merupakan tempat berkumpul atau biasa disebut 'Paseban' oleh orang Kejawen.
"Lokasi tersebut sebelumnya sering dijadikan tempat berdoa baik umat Hindu maupun Kejawen dan menghadap ke Selatan," ucapnya.
Mengapa berdoa menghadap ke laut Selatan Jawa, Iswanto menjelaskan warga hanya mengikuti adat istiadat dari leluhur jaman dulu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh warga Kejawen.
"Tiap tahunnya masyarakat 'Sadranan' dengan kegiatan kendurian atau makan-makan bersama," ungkapnya.
Iswanto menuturkan, pendiri dari masjid Aolia sempat mendapatkan petunjuk dari alam gaib untuk mendirikan bangunan tersebut.
"Ketika mau didirikan bangunan itu sempat ada konflik, namun mba Benu menjelaskan bahwa tujuannya untuk merangkul masyarakat yang boleh dipergunakan untuk semua umat beragama," tuturnya.
Tak hanya itu, Iswanto bercerita Mba Benu meyakini bahwa lokasi masjid merupakan tempat pertapaan eyang Prabu Brawijaya.
Sehingga lokasi tersebut merupakan tempat special untuk masyarakat setempat.
"Berdasarkan cerita dari mba Benu, Eyang Prabu Brawijaya dikejar oleh sang putra di sini dan membakar dirinya ke api yang kini dikenal sebagai Ngobaran," ungkapnya.
Iswanto menyebut bahwa masjid tersebut hingga saat ini masih digunakan oleh warga sekitar ataupun pengunjung yang hendak melaksanakan sholat.
"Sempat ada protes dari umat agama lain mengenai adanya mushola itu namun berakhir damai dan masjid tetap berdiri," jelasnya.
Iswanto mengaku, masjid tersebut salah satu ikon yang membuat penasaran pengunjung dengan struktur bangunan yang menghadap ke laut Selatan Jawa.
"Tetapi bagi orang awam mungkin mengiranya sholatnya menghadap arah Selatan, padahal tidak demikian," tandasnya.
Editor : Meitika Candra Lantiva