RADAR JOGJA - Dibutuhkan anggaran besar untuk menghidupkan kembali teknologi Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II Sindon, Semanu. Dibtuuhkan anggaran perbaikan Rp 45 Miliar untuk perbaikan fasilitas yang berhenti operasional sejak 2017 itu karena rusak diterjang badai Cempaka.
Pemkab Gunungkidul berharap bisa kembali memanfaatkan pengelolaan air Bribin II Sindon ini. Sebab, jika kembali beroperasional dapat menyuplai wilayah Kapanewon Tepus, Girisubo, Rongkop, Semanu, dan Tanjungsari.
Untuk kepentingan ini, Selasa (28/11), Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) dan Bupati Gunungkidul beserta jajaran melakukan pengecekan ke lokasi. Turun ke sungai bawah tanah sedalam 104 meter.
Dijelaskannya, kerusakan bendungan bawah tanah cukup parah. Salah satunya jalur utama sehingga tidak berfungsi. Sehingga sistem pengangkatan air ke permukaan tanpa bantuan listrik tetapi energi turbin macet untuk sekian lama."Sejak badai Cempaka (2017) sampai sekarang kan gak dioperasionalkan. Jadi semua perlu di cek ulang. Waktu kita kajian dibantu oleh Marinir," ujarnya.
Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Toto Sugiharto berharap Bribin II bisa segera diperbaiki. Sebab, Bribin II digunakan untuk mengairi Tepus, Rongkop, dan Girisubo. Tiga Kapanewon ini awalnya menggunakan dua sumber yakni Bribin I dan Sindon (Bribin II), namun sejak badai cempaka 2017 hanya tinggal satu yakni Bribin."Satu sumber dengan 100 liter per detik dari Bribin I digunakan untuk sekitar 13.500 pelanggan. Kini minus produksi, pendistribusiannya ada penggiliran," kata Toto.
Sebelumnya Bribin II menghasilkan air baku yang diangkat dengan debit 80-100 liter per detik. Dimanfaatkan oleh PDAM Gunungkidul untuk memasok kebutuhan sekitar 79.000 penduduk atau 6.000 KK. (gun/din)
Editor : Satria Pradika