GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menyatakan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Gunungkidul telah mengalami penurunan cukup signifikan.
Sejauh ini teknik melumpuhkan nyamuk nakal dengan penyebaran nyamuk Wolbachia belum dilakukan.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Zoonosis Dinkes Kabupaten Gunungkidul Yuyun Ika Pratiwi mengkonfirmasi hal tersebut. Dia mengatakan, tren penyebaran DBD di tahun ini cenderung menurun.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Zoonosis Dinkes Kabupaten Gunungkidul Yuyun Ika Pratiwi mengkonfirmasi hal tersebut. Dia mengatakan, tren penyebaran DBD di tahun ini cenderung menurun.
"Terlihat dari data penyebaran kasus sepanjang tahun ini," kata Yuyun Ika Pratiwi Kamis (16/11).
Mengacu pada data hingga akhir Oktober 2023, total ada 140 kasus DBD dengan jumlah korban meninggal dunia satu orang.
Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding kejadian tahun lalu yang mencapai 449 kasus dengan korban meninggal tiga orang.
"Meski trend kasus DBD mengalami penurunan, tetap harus waspada," ujarnya.
Kata dia, potensi peningkatan kasus sangat mungkin terjadi saat musim hujan. Itu artinya, semua lapisan masyarakat diimbau tetap mewaspadai penyebaran penyakit dengan cara melakukan pencegahan.
“Penerapkan pola hidup bersih dan sehat wajib dilakukan," jelasnya.
Seperti program 3M (menutup, menguras, dan mengubur) benda-benda sekitar lingkungan karena berpotensi menjadi sarang nyamuk terus disosialisasikan.
Berdasarkan data nyamuk nakal paling banyak menjangkiti warga Kapanewon Wonosari, Karangmojo, Ponjong dan warga Kapanewon Playen. Penduduk perkotaan paling rentan dengan DBD dan tidak mengenal batasan usia.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, hingga sekarang belum menggunakan teknik melawan nyamuk penyebab DBD dengan penyebaran nyamuk Wolbachia sebagaimana Kabupaten Bantul dan Sleman.
"Masyarakat sudah familiar dengan program 3M," kata Dewi Irawaty.
Dikatakan, penyebaran DBD erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan. Karena itu masyarakat diminta terus menjaga pola hidup bersih sehat dan rajin berolahraga. Daya tahan tubuh yang kuat potensi terserang penyakit juga semakin kecil.
"Saat ini masyarakat juga perlu mewaspadai musim pancaroba. Peralihan dua musim memiliki risiko penularan penyakit berbagai penyakit," ungkapnya.
Pergantian cuaca bisa menimbulkan penyakit Ispa (Infeksi Saluran Pernapasan) yang dapat menular ke orang lain. Kemudian demam berdarah (DB), hipertensi (darah tinggi) dan nasofaring akut (pilek), TBC (tuberculosis), diare, dan leptospirosis.
"Upaya pencegahan harus dilakukan dengan mengoptimalkan program gerakan masyarakat sehat (germas)," ucapnya. (gun)
Editor : Amin Surachmad