GUNUNGKIDUL - Dua kepala keluarga (KK) warga Padukuhan Suru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, yang tinggal di rumah di atas bukit pernah ditawari program bedah rumah. Namun karena takut tidak bisa melanjutkan pembangunan mereka hanya bisa pasrah.
Melalui program pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Pemkab Gunungkidul pernah menawarkan kepada dua warga tersebut. Rehab rumah. Mereka dinilai layak dan berhak menerima bantuan dari negara.
"Bedah rumah dapat anggaran sekitar Rp 10 juta. Kami tidak punya uang untuk melanjutkan pembangunan rumah," kata Tupan yang diamini oleh Winarno pada Minggu (27/8).
Sebenarnya mereka sangat ingin sesegera mungkin meninggalkan tempat itu. Kekhawatiran rawan longsor dan serangan monyet ekor panjang selalu menghantui. Pihaknya berharap uluran tangan dari pemerintah dan para dermawan.
Sebagaimana diketahui,dua KK itu merupakan warga Padukuhan Suru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen. Terpaksa tinggal di atas bukit. Mereka terisolir dari pemukiman lain, karena tidak punya tempat tinggal di dataran rendah.
Masing-masing pasangan suami istri (pasutri) Tupan,50 dan Milestari serta satu anaknya yang masih sekolah. Kedua adalah pasutri Winarno dan Sugiyanti. Anggota keluarga ini terdiri dari 7 jiwa, diantaranya masih balita.
"Butuh waktu tempuh sekitar 1,2 jam dari bawah (pemukiman penduduk bawah bukit) untuk sampai ke rumah saya ini," kata Tupan.
Jalan setapak, hanya dapat ditempuh dengan cara jalan kaki. Sementara untuk akses lampu penerangan, menurutnya, nggantol atau menyambung jaringan listrik milik warga yang ada di bawah bukit. (gun)
Editor : Amin Surachmad