Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nelangsa, Dua Keluarga Terpaksa Tinggal di Atas Bukit: Ada yang Balita, Rawan Diserang Monyet dan Longsor

Gunawan RaJa • Minggu, 27 Agustus 2023 | 22:49 WIB

 

INGIN PINDAH RUMAH: Pasangan suami istri (pasutri) Tupan dan Milestari yang tinggal di atas bukit wilayah Padukuhan Suru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Sabtu (26/8). (Istimewa)
INGIN PINDAH RUMAH: Pasangan suami istri (pasutri) Tupan dan Milestari yang tinggal di atas bukit wilayah Padukuhan Suru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Sabtu (26/8). (Istimewa)

 

GUNUNGKIDUL - Dua kepala keluarga (KK) warga Padukuhan Suru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, terpaksa tinggal di atas bukit. Mereka terisolasi dari warga lain.

Mereka tidak punya tempat tinggal di dataran rendah. Ancaman longsor dan serangan monyet ekor panjang selalu menghantui.


Dua KK itu masing-masing pasangan suami istri (pasutri) Tupan, 50, dan Milestari serta satu anaknya yang masih sekolah. Kemudian, pasutri Winarno dan Sugiyanti.

Anggota keluarga itu terdiri dari tujuh jiwa. Ada di antaranya masih balita. Mereka berasal dari keluarga kurang mampu.

SEPI: Sejumlah ayam di sekitar rumah warga Padukuhan Suru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. (Istimewa)
SEPI: Sejumlah ayam di sekitar rumah warga Padukuhan Suru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. (Istimewa)


Kepada Radar Jogja, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Tupan dan Winarno berbicara dengan terbata-bata. Pembicaraan pun tidak berlangsung lancar. Itu karena pengaruh sinyal GPS yang tidak mampu menjangkau jaringan di wilayah itu secara penuh.


"Butuh waktu tempuh sekitar 1,2 jam dari bawah (permukiman penduduk bawah bukit) untuk sampai ke rumah saya ini," kata Tupan.


Jalan setapak menanjak hanya dapat ditempuh dengan cara jalan kaki. Sementara untuk akses lampu penerangan, menurutnya, nggantol atau menyambung jaringan listrik milik warga yang ada di bawah bukit.

 
"Mau bagaimana lagi, sebenarnya kami ingin pindah rumah tapi tidak ada biaya," ucap buruh serabutan ini.


Sementara itu, tetangga satu-satunya yang ada di atas bukit, Winarno, ternyata merupakan salah satu ketua RT di Padukuhan Suru. Nasibnya juga sama dengan Tupan.

Dia mengaku gingga kini terpaksa tinggal di perbukitan. Namun, dia sedikit lebih beruntung lantaran posisi rumah berada di bawah kediaman Tupan.


"Rawan longsor dan muncul serangan monyet ekor panjang," kata Winarno.


Kata dia, sebenarnya di atas bukit itu dulu total ada 22 KK. Namun, lambat laun berkurang karena secara mandiri sejak 2020 mereka mulai "turun gunung" dan membangun rumah di dataran rendah.

 
"Tinggal kami-kami ini saja sekarang di atas bukit," ujarnya.


Mereka sangat ingin sesegera mungkin meninggalkan rumah tak layak huni tersebut. Kekhawatiran rawan longsor dan serangan monyet ekor panjang selalu menghantui. Mereka berharap uluran tangan dari pemerintah dan para dermawan. (gun)

 

 

Editor : Amin Surachmad
#rumah tak layak huni #rumah di atas bukit #rawan longsor