RADAR JOGJA - Proses vaksinasi antraks besar-besaran terhadap hewan ternak mulai dilaksanakan di Gunungkidul. Rencananya vaksin penangkal bakteri bacillus anthracis itu diberikan dua tahun sekali hingga 10 tahun ke depan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul Retno Widiastuti mengatakan, vaksinasi antraks terhadap ribuan ternak berlangsung di lokasi tertular dan rawan tertular. "Yakni (zona merah) Padukuhan Jati, Candirejo, Semanu dan sekitarnya," katanya Jumat (28/7/23).
Dia menjelaskan, vaksin antraks terhadap ternak dilakukan dengan penyuntikan antibiotik. Lokasinya di kawasan Jati dan sekitarnya. Sesuai prosedur penyuntikan, vaksin tidak bisa langsung diberikan karena harus ada jeda waktu dua minggu dari penyuntikan antibiotik. "Selain itu, hewan yang akan divaksin tidak dalam keadaan bunting maupun sakit," ujarnya.
Menurutnya, sasaran vaksin mencapai sekitar 2.000 ekor ternak, terdiri atas kambing dan sapi. Disinggung mengenai stok vaksin, ia menyebut aman karena beberapa waktu lalu mendapatkan bantuan 11.107 dosis dari kementerian. “Vaksin tidak hanya diberikan sekali. Tapi akan rutin diberikan selama 10 tahun ke depan,” ungkapnya.
Selain pemberian vaksin terhadap hewan ternak di seputaran lokasi temuan antraks, petugas terus menyosialisasikan ke masyarakat tentang bahaya penularan penyakit antraks. Intinya masyarakat harus paham. Jangan menyembelih hewan mati mendadak supaya resiko penyebaran penyakit dapat dicegah.
“Paling aman dengan cara dikubur. Kami juga meminta kepada masyarakat untuk menghentikan praktik brandu. Sebab, tradisi ini menjadi salah satu sumber penyebaran antraks di Gunungkidul,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala DPKH Kabupaten Gunungkidul Wibawanti Wulandari mengatakan, temuan kasus antraks pada hewan ternak hanya terjadi di Jati, Candirejo. Hasil uji sampel di Semuluh Lor, Ngeposari, Semanu baru-baru ini negatif. “Sudah keluar hasil uji sampel di Semuluh Lor dan hasilnya negatif. Jadi, temuan kasus antraks tahun ini hanya ada di satu lokasi,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi munculnya kasus antraks di sekitar lokasi zona merah, petugas menyirami tanah dengan cairan formalin. "Meski hasil laboratorium menyatakan sampel tanah negatif, warga harus tetap waspada," katanya. (gun/laz)