RADAR JOGJA - Pernah mendengar atau mencicipi cemilan kethak, 'berarti Anda sudah tua'. Begitu ungkapan untuk men-judge seseorang jika tidak tahu kethak atau blondo. Namun, anggapan itu tidak 100 persen benar. Walau memang tidak sepenuhnya salah, karena menu jadul tersebut memang sudah jarang ditemukan di zaman sekarang.
Terbuat dari bahan utama perasan ampas kelapa tua, kethak biasa disajikan dalam dua rupa bentuk. Seperti dibungkus daun pisang kering menyerupai lemper, juga bisa dihidangkan dalam wujud bulatan kecil seukuran bakso.
Berwarna coklat tua, memiliki tekstur lunak mudah hancur, kethak memiliki cita rasa yang khas, yakni gurih, dan manis legit. Rasa gurih kethak berasal dari parutan kepala, sementara manis legit bersumber dari campuran gula merah atau gula jawa.
Seorang warga Pragak, Semanu, Gunungkidul, Qiro'atun Marfuah mengaku sebagai pecinta cemilan kethak atau blondo. Kali pertama mengenal blondo dari ibundanya. Ketika duduk di bangku sekolah dasar, cemilan itu menjadi menu pendamping nasi. “Nasi masih kemedul (keluar uap panas, Red) lauknya blondo,” kata Qiro'atun saat diajak bincang-bincang Radar Jogja kemarin (23/9).
Rasanya bagaimana, menurut dia, enak tak tertandingi. Sangat khas dan tidak ada rasa makanan lain yang bisa sama dengan blondo. Cara membuat kethak pun harus menggunakan bahan dasar kelapa tua dengan jumlah banyak.
“Saya kurang mengetahui persis perbandingannya. Bbutuh berapa kelapa untuk bisa membuat blondo. Yang jelas agar bisa dimakan dibutuhkan puluhan bahan kelapa tua,” ujarnya.
Nah, lantaran membikin blondo penuh dengan perjuangan, cara makannya pun harus hati-hati. Tidak sekali habis lantas disimpan. Cemilan kethak ternyata bisa bertahan layak konsumsi hingga berhari-hari. “Asal ditutupi rapat aman. Supaya tidak dihinggapi lalat dan sumber kotoran yang lain,” ucap perempuan kelahiran 90an ini.
Berbeda dengan Qiro'atun Marfuah, warga lain yang tinggal di wilayah Kapanewon Patuk, Sugianto punya pendapat lain soal blondo ini. Kata dia, keberadaan blondo tak lepas dari lengo klentik. Yakni, minyak goreng yang dibuat dari santan kelapa kental direbus dan diaduk lama di dalam wajan besar hingga menghasilkan cairan minyak. “Nah, minyaknya ini selain untuk keperluan goreng-menggoreng, dulu biasa saya gunakan untuk minyak rambut,” katanya.
Memiliki aroma tak tertandingi. Bau menyengat yang ditimbulkan sempat menjadi bahan olok-olokan oleh teman sekolah. Menurut Sugianto, kawan-kawannya meledek karena tidak punya dan tak mampu bikin blondo. Begitu cara Sugianto menahan diri saat tersinggung. “Tapi memang benar, bau minyak blondo sangat menyengat, tapi saya suka,” ujarnya yang mengaku masih menyukai minyak blondo hingga kini.
Untuk diketahui, dulu lengo klentik adalah hasil produksi rumahan. Dibuat untuk digunakan sendiri (domestikasi). Ada pula yang membuat dalam jumlah cukup banyak untuk dijual ke pasar. (gun/laz) Editor : Editor Content