Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, setiap tahun mendapatkan laporan tentang penderita baru penyakit TB. Tahun lalu mencapai 266 kasus."Enam pasien penyakit TB meninggal dunia terhitung dari Januari sampai dengan April,” kata Dewi Irawaty kemarin.
Dia menjelaskan, penyakit TB disebabkan oleh bakteri. TB dibedakan menjadi dua jenis yaitu TB resisten, penderita sudah tidak bisa merespons 1 atau lebih jenis obat TB yang disediakan oleh medis, atau bisa diartikan kebal obat. Penderita TB resisten harus menjalani pengobatan selama 9 bulan sampai dengan 11 bulan.
Sedangkan TB sensitif penderitanya masih dapat merespons hanya dengan obat yang disediakan atau diberikan oleh dokter. Biasanya penderita TB sensitif menjalani pengobatan selama 6 bulan lamanya.“Untuk pengobatan pasien TB sendiri harus rutin sesuai dengan jadwal yang ada dan tidak boleh putus,” ujarnya.
Pemerintah mengimbau kepada masyarakat agar waspada karena penularannya cepat dan pasien wajib mengikuti pengobatan secara berkala selama masa penyembuhan.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Gunungkidul Diah Prasetyorini mengatakan, berdasarkan data terbaru terdapat 5 penderita TB sensitif meninggal dunia. Sedangkan penderita TB resisten meninggal satu orang. Mayoritas adalah lansia, sehingga temuan kasus ini pada saat kondisi tubuh sudah drop dan penanganannya tidak bisa maksimal. “Jumlah penderita masih dilakukan pendataan. Setiap tahunnya kami selalu mendapatkan laporan tentang penderita baru penyakit ini, tahun kemarin ada 266 penderita,” kata Diah Prasetyorini.
Dikatakan, penyakit TB harus diwaspadai oleh masyarakat sebab gejala yang timbul hampir sama dengan penyakit-penyakit pada umumnya. Gejala paling umum muncul adalah batuk berdahak minimal dua minggu. Kemudian disertai dengan gejala tambahan yaitu demam, berkeringat saat malam hari padahal tidak sedang beraktifitas, sesak nafas, dan penurunan berat badan secara drastis dalam waktu yang singkat. “Sesekali juga batuk sampai berdarah. Saat mengalami gejala seperti ini kami meminta masyarakat untuk segera berobat agar mendapatkan penanganan,” ujarnya
Mengingat bahayanya penyakit TB, dinas dan puskesmas masing-masing wilayah bekerjasama dengan kader kesehatan padukuhan untuk sosialisasi. Jika dicurigai muncul gejala-gejala tersebut hendaknya langsung dilakukan pendekatan, periksa ke fasilitas kesehatan dan dilakukan uji laboratorium. "Masyarakat tidak perlu khawatir dengan biaya, sebab pemerintah membuka layanan pengobatan bagi pasien TB secara gratis dari awal hingga akhir," ucapnya.
Pasien juga mendapatkan pendampingan begitu pula dengan anggota keluarga dan lingkungan diedukasi. Menurutnya, memberikan suport agar lekas sembuh sangat dibutuhkan oleh pasien. Kemudian penerapan pola hidup sehat. (gun/din)
Editor : Editor Content