JOGJA - Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai pusat kopi yang tidak sekadar menjual bahan mentah. Senin (24/8/2026), Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima kunjungan jajaran panitia Jogja Coffee Week (JCW) 2026 di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan.
Dalam pertemuan itu, Ngarsa Dalem menyampaikan pesan yang cukup tegas namun membangun. Pameran-pameran kopi di Yogyakarta, termasuk JCW, jangan hanya menjadi etalase green bean atau bahan baku mentah. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk menciptakan nilai tambah—produk yang sudah diolah, dikemas, bahkan siap dikonsumsi.
Ketua Organizing Committee JCW ke-6, Rahadi Saptata Abra, menceritakan arahan tersebut dengan antusias usai pertemuan. “Ngarsa Dalem berharap pameran kopi itu tidak hanya menjual raw material, tapi lebih kepada value dan added value,” ujarnya.
Arahan ini langsung disambut positif oleh panitia. Ternyata, pesan Sri Sultan sejalan dengan salah satu program unggulan yang sudah disiapkan: Indonesia Coffee Business Summit (ICBS). Melalui forum ini, diskusi akan lebih banyak menyentuh hilirisasi kopi—mulai dari blending, pengemasan, hingga penjualan produk jadi yang siap dinikmati di luar negeri.
Tidak hanya itu, JCW 2026 juga memberi panggung setara bagi para petani melalui Green Bean Competition. Kompetisi ini menilai kualitas biji kopi mentah yang diolah langsung oleh petani dan prosesor. Tahun ini, para juara akan menerima Piala Raja yang direncanakan diserahkan langsung oleh Sri Sultan. Harapannya, penghargaan bergengsi ini mampu meningkatkan animo peserta sekaligus mendorong petani menghasilkan kopi dengan skor tinggi di atas 8,5. Kopi-kopi terbaik itu nantinya bisa ikut lelang dan memperoleh harga yang lebih baik.
Baca Juga: Gunung Merapi Siaga, Enam Guguran Lava Meluncur hingga 2 Kilometer pada 24 Agustus 2026
Event tahunan yang digelar 4–6 September 2026 di Hall B-C Jogja Expo Center ini memang sudah naik kelas. Dengan tema Inclusive Vibes, JCW #6 menghadirkan 179 booth, kompetisi, workshop, talkshow, hingga hiburan. Peserta tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga melibatkan delegasi ASEAN Coffee Federation dan perwakilan dari Jepang.
Pesan Sri Sultan ini terasa relevan di tengah tantangan industri kopi nasional. Banyak petani masih terjebak di hulu, sementara nilai ekonomi terbesar justru berada di hilir. Dengan dorongan dari pemimpin daerah, diharapkan Yogyakarta bisa menjadi contoh bagaimana pameran kopi benar-benar memberdayakan seluruh rantai pasok—dari kebun hingga cangkir.
Bagi pecinta kopi dan pelaku industri, JCW 2026 bukan sekadar tempat ngopi bareng. Ini menjadi momen untuk melihat bagaimana visi hilirisasi mulai diwujudkan secara nyata di tanah Mataram.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Instagram