JOGJA - Jogja Fashion Week (JFW) 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi para desainer untuk memperkenalkan karya-karya mereka. Ajang fashion tahunan itu juga menjadi ruang bagi talenta baru untuk mengasah kemampuan dan kepercayaan diri, salah satunya Raden Ajeng Artie Ayya Fatimasari Wironegoro, yang merupakan putri GKR Mangkubumi, sekaligus cucu Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
Pada gelaran tahun ini, Artie tampil sebagai model dalam dua hari berturut-turut. Pada Jumat (14/8), ia membawakan koleksi desainer Ayu Dyah Andari. Sehari kemudian, Sabtu (15/8), Artie kembali melenggang di atas runway dengan mengenakan rancangan desainer Itang Yunasz.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Theresia Sumartini mengatakan, bahwa keterlibatan Artie dalam JFW 2026 bermula dari mekanisme open submission yang dibuka bagi para calon model.
Kata Theresia, Artie mendaftarkan diri secara mandiri dan mengikuti proses wawancara seperti peserta lainnya. Setelah proses tersebut, panitia melakukan penyesuaian antara model dengan desainer berdasarkan karakter serta konsep busana yang akan ditampilkan.
Baca Juga: Messi Kembali, Namun Gagal Eksekusi Penalti saat Inter Miami Dibantai Nashville
"Mbak Artie mendaftar sendiri dan wawancara sendiri. Ikut wawancara juga. Sama dengan yang lain," ujar Theresia, Sabtu (15/8).
Meski demikian, panitia tetap mempertimbangkan karakter Artie ketika menentukan desainer yang akan menjadi pasangannya di atas panggung. Hal itu karena Artie merupakan bagian dari keluarga Keraton Yogyakarta sehingga busana yang dikenakan diupayakan memiliki karakter budaya yang kuat.
Theresia menyebut, bahwa proses tersebut terlihat pada penampilan Artie sehari sebelumnya. Menurut dia, rancangan yang dikenakan Artie memiliki unsur batik dan desain yang dinilai sesuai dengan karakter budaya Yogyakarta.
"Bagaimanapun mbak Artie itu membawa nama Keraton Jogja ya, jadi kita pilihkan desainer yang memang cocok, dan budayanya itu yang paling mengangkat,” katanya.
Kehadiran Artie turut memberikan warna tersendiri dalam penyelenggaraan JFW 2026. Theresia mengatakan, antusiasme masyarakat untuk menyaksikan peragaan busana tahun ini cukup tinggi. Bahkan, jumlah sesi fashion show meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Tahun ini terdapat 12 sesi fashion show. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 10 sesi. Tingginya minat komunitas dan pelaku fashion bahkan membuat panitia harus membatasi peserta karena keterbatasan waktu.
“Artinya komunitas yang ingin menampilkan itu juga masyarakat semakin banyak yang ingin memperlihatkan karya-karyanya. Kami sangat mengapresiasi karena dari setiap tahun itu terjadi penambahan,” ucap Theresia.
Baca Juga: Tanpa Cristiano Ronaldo, Al Nassr Awali Musim Saudi Pro League 2026/27 dengan Kemenangan
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan semakin kuatnya ekosistem fashion di Yogyakarta. JFW pun tidak hanya diarahkan sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari upaya mempertemukan pelaku industri dari hulu hingga hilir.
“Kami ingin membentuk ekosistem fashion yang kuat. Kami ingin setiap tahun menguatkan ekosistem fashion yang nantinya berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat,” tutur Theresia.
Sementara itu, pada Sabtu (15/8), Artie tampil membawakan koleksi desainer Itang Yunasz. Koleksi tersebut mengangkat tema A Blossom, yang terinspirasi dari bunga sebagai simbol kesejukan di tengah berbagai persoalan kehidupan.
Itang mengatakan, bahwa koleksi tersebut tetap membawa unsur budaya Jawa melalui penggunaan ornamen batik. Baginya, eksplorasi fashion modern tidak harus membuat desainer meninggalkan identitas budaya yang menjadi akar karyanya.
“Walaupun itu bergaya global, tapi saya tetap memberi sentuhan batik yang memang budaya dari Jawa itu sendiri,” ujar Itang.
Keterlibatan Artie dalam koleksi tersebut juga membuat Itang melakukan penyesuaian pada salah satu rancangannya. Ia mengaku baru mengetahui beberapa hari sebelum tampil bahwa salah satu model yang akan membawakan koleksinya merupakan cucu Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Setelah menerima foto Artie dan mengetahui profilnya, Itang kemudian menyiapkan busana yang dinilai lebih sesuai dengan karakter Artie.
“Ada persiapan khusus di dalam beberapa hari, dan harus mikir untuk bikin sesuatu yang spesial, karena it's like a queen gitu loh,” kata Itang.
Menurut Itang, Yogyakarta sendiri memiliki potensi besar dalam perkembangan industri fashion. Ia melihat ekosistem fashion di daerah ini semakin berkembang, didukung keberadaan sekolah fashion dan para pelaku industri yang memiliki kemampuan kuat.
"Potensi fashion Yogyakarta mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia," serunya.
Dari sisi keluarga, ibunda Artie, GKR Mangkubumi mengatakan keterlibatan putrinya dalam JFW 2026 bukan merupakan bentuk pengarahan agar putrinya menekuni profesi tertentu. Ia justru melihat pengalaman tersebut sebagai kesempatan bagi Artie untuk belajar dan meningkatkan rasa percaya diri.
Baca Juga: Victor Osimhen Buka Suara soal Arsenal dan Tottenham, Transfer Premier League Masih Terbuka?
Artie sendiri selama ini memang banyak dikenal menekuni bidang seni. Selain melukis, GKR Mangkubumi menyebut putrinya kini juga sedang belajar patung secara mandiri.
Karena itu, pengalaman tampil di runway fashion show dipandang sebagai bagian dari proses belajar yang dapat memperkaya pengalaman Artie.
"Kalau saya sih mendukung, soalnya ini urusan uji nyali kan kayak gini-gini. Biar dia percaya diri juga," ujar GKR Mangkubumi.
Ia menegaskan, bahwa tidak ada arahan khusus agar Artie memilih satu bidang tertentu. Menurutnya, berbagai pengalaman justru penting untuk dipelajari.
"Enggak, enggak ada arahan khusus. Semua harus dipelajari," katanya.
Baca Juga: Alaves Buka Musim LaLiga dengan Kemenangan 3-0 atas Getafe yang Bermain 10 Orang
GKR Mangkubumi juga mengungkapkan, bahwa Artie sebelumnya memang sempat mengikuti kursus di Jakarta. Kesempatan tampil dalam JFW 2026 kemudian menjadi salah satu ruang bagi putrinya untuk mempraktikkan pengalaman yang telah diperoleh.
"Karena memang dia kursus beberapa bulan di Jakarta. Nah, dia ini pengin realisasinya. JFW jadi wadah untuk itu," tuturnya. (iza)