JOGJA - Festival Literasi Jogja 2026 kembali digelar di halaman depan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY pada 9 hingga 13 Juli. Kegiatan ini menunjukkan perkembangan signifikan.
Tingginya antusiasme komunitas literasi, penerbit, hingga masyarakat membuat panitia bahkan harus membatasi jumlah agenda yang dapat difasilitasi selama lima hari pelaksanaan.
Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY Yusuf Effendi mengatakan, keterbatasan durasi menjadi tantangan utama.
Banyak komunitas dan penerbit yang ingin menggelar bedah buku maupun diskusi, namun tidak seluruhnya dapat diakomodasi ke dalam jadwal acara.
Baca Juga: Mahasiswa UIN Yogyakarta Meninggal Dunia akibat Kecelakaan saat Antar Donasi untuk Dhuafa
"Festival Literasi ini programnya Perpusnas, jadi memang durasinya lima hari di semua daerah. Sebenarnya kalau bisa kami ingin menambah hari, tetapi konsekuensinya harus membiayai sendiri," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Panitia kemudian mengarahkan sebagian agenda yang belum tertampung ke penyelenggaraan Jogja Book Fair yang akan digelar beberapa bulan mendatang.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, lokasi festival tahun ini dipindahkan ke halaman depan kompleks DPAD DIY.
Yusuf menjelaskan, perubahan lokasi dilakukan agar kegiatan lebih mudah terlihat masyarakat sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi pengunjung.
Baca Juga: Menuju Malioboro Full Pedestrian, Pemkot Jogja Godok Skema Pengaturan Lalu lintas Sirip-Sirip
"Di depan aksesnya lebih mudah, dari jalan juga langsung kelihatan. Lalu tempatnya lebih luas, jadi penataan panggung, stan, dan sirkulasi menjadi lebih nyaman. Ini juga kampanye literasi agar lebih menarik perhatian masyarakat," tuturnya.
Perwakilan panitia Bidang Acara dan Media Festival Literasi Jogja Fairuzul Mumtaz mengungkapkan, besarnya minat masyarakat terlihat dari banyaknya komunitas yang mengajukan kolaborasi.
"Lima hari itu sangat mepet. Kami banyak menolak komunitas yang ingin bergabung, penerbit yang ingin bedah buku, karena rundown sudah penuh. Bahkan untuk penerbit saja kami hanya bisa menyediakan sekitar sepuluh sesi bedah buku," katanya.
Baca Juga: Geliat Bursa Transfer, Dimas Drajad Masuk Radar PSS Sleman
Menurutnya, Festival Literasi Jogja tahun ini menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari bedah buku, peluncuran buku, diskusi, talkshow literasi dan teknologi, hingga pameran komunitas.
Sekitar sepuluh komunitas literasi ikut terlibat mengisi berbagai aktivitas selama festival berlangsung.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah peluncuran buku hasil program pembinaan penulis yang dijalankan DPAD DIY selama sekitar enam bulan. Program tersebut mencakup pelatihan menulis, pendampingan, hingga proses penerbitan buku.
"Harapannya dari program itu lahir penulis-penulis baru. Jadi bukan hanya menjual buku, tetapi juga melahirkan karya baru," jelasnya.
Baca Juga: Kiper muda PSIM Jogja Gilang Ardha Pradipta Purnama Tatap Musim Baru dengan Bekal di Tim Senior
Festival Literasi Jogja 2026 diikuti lebih dari 100 penerbit. Sekitar 70 persen peserta berasal dari DIY, sementara sisanya berasal dari sejumlah daerah lain, seperti Jakarta dan Bandung.
Selain menghadirkan pasar buku, festival tahun ini juga diisi talkshow tentang peningkatan minat baca, perkembangan teknologi, gerakan literasi, area anak, pameran komunitas, hingga berbagai layanan publik.
Tingginya antusiasme juga dirasakan para pengunjung. Farid Kurniawan, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, mengaku kembali datang setelah mengunjungi festival yang sama tahun lalu.
"Ini tahun kedua saya datang karena dekat juga dari tempat saya. Saya senang ke sini, selain banyak buku juga banyak kegiatan. Yang paling saya nantikan bedah buku dan diskusinya," ujarnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita