JOGJA — Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta akan berubah menjadi ruang perjumpaan para seniman lintas generasi dalam gelaran O, Nol Koma #1 bertajuk Ruang Awal, Ruang Bersama pada Jumat (10/7/2026).
Acara yang digagas komunitas Malioboro Classical Jogja ini hadir sebagai upaya merawat ingatan kolektif sekaligus menghidupkan kembali semangat Malioboro sebagai ruang budaya yang terbuka bagi siapa saja.
Bagi banyak kalangan seni dan budaya, Malioboro bukan sekadar kawasan wisata atau deretan toko.
Selama puluhan tahun, kawasan ini dikenal sebagai ruang tumbuh yang melahirkan penyair, musisi, pelukis, budayawan, hingga pemikir yang memberi warna bagi perjalanan kebudayaan Indonesia.
Malioboro bahkan kerap disebut sebagai "kampus jalanan", tempat siapa saja dapat belajar tanpa batas latar belakang sosial maupun pendidikan formal.
Steering Committee (SC) Agus "Dayak" Imron menyampaikan bahwa kegelisahan anak-anak Malioboro terhadap jalan Malioboro sendiri menjadi latar belakang utama gelaran ini.
Peluncuran patung Umbu Landu Paranggi—tokoh Malioboro yang dijuluki "Presiden Malioboro"—dinilai penting untuk meneruskan semangat menjadikan Malioboro sebagai tempat yang melahirkan banyak tokoh nasional.
"Malioboro sebagai bunda rantau, bukan sekadar jalan," tegas Agus.
Untuk penampilan musik, sastra, dan seni rupa, disiapkan beberapa kantong seni budaya yang melibatkan anak-anak ISI Jogja.
Menurutnya, Jogja sebagai episentrum kesenian dan Malioboro saat ini adalah keniscayaan.
Agus menambahkan bahwa komunikasi dengan para stakeholders terus dilakukan untuk mengelola Malioboro menjadi sesuatu yang mampu memberi warna—bahwa Malioboro bukan sekadar bisnis, tetapi juga ruang publik.
"Kami bersinergi dengan para seniman. Jalan Malioboro sebagai tempat belajar, tak hanya tempat jual beli semata. Bagaimana pemerintah menumbuhkan Malioboro selain pusat bisnis namun juga bisa jadi tempat berkumpul para seniman," ujarnya.
Malioboro diharapkan menjadi ruang publik dan ruang ekspresi, tempat berkesenian sekaligus berkehidupan.
Koordinator Sastra, Feri Ludyanto, mengungkapkan bahwa awal masuk Jogja ia bertemu dengan sastrawan yang lahir di Malioboro.
Kini, Jogja dinilainya minim ruang kepenyairan.
"Ada delapan penyair, Piwulang Sastra, akan berperan di acara ini. Penyair senior tampil di mainstage. Memory ingatan menjadi penting, dan sampai hilang," tuturnya.
Koordinator Seni Rupa, Joko "Gundul" Sulistiono, menambahkan bahwa acara ini menjadi ajang untuk kembali merangkai teman-teman yang tercerai-berai menjadi kumpul kembali.
"Malioboro sebagai kawah candradimuka pendidikan. Banyak sastrawan dan budayawan lahir dari Malioboro," katanya.
Umbu disepakati sebagai Presiden Malioboro. "Malioboro melahirkan banyak tokoh yang ditempa keadaan, sebagai kawah candradimuka banyak orang. Kami merangkai balung pisah," imbuhnya. Sekitar 15 pelukis akan terlibat dalam kegiatan melukis on the spot.
Koordinator Acara, Diar Sahudi, merinci bahwa acara dimulai pukul 14.00 WIB.
Sastra dimulai dari utara (Bank BPD DIY), seni rupa, tari, dan musik.
Sekitar pukul 16.55 WIB akan dilakukan peresmian patung Umbu Landu Paranggi.
Mainstage berada di depan Senisono berbentuk angka nol, dengan sisi depan mengarah ke Kantor Pos.
Seni rupa menyebar di beberapa titik, sementara sastra estafet dimulai dari depan BPD DIY dengan menggunakan panggung mobile.
Baca Juga: Jelang Penerapan Full Pedestrian, Pedagang Resah Omzet Turun: Berharap Pemerintah Lakukan Ini
Penjelasan acara O, Nol Koma #1 ini disampaikan di Milli by Shaggydog Jogja, Senin (6/7/2026).
Turut hadir Ketua Malioboro Classical Seno Prawoto, Steering Committee Agus "Dayak" Imron, Koordinator Acara Diar Sahudi, Koordinator Musik Jaka Prasetya, Koordinator Sastra Feri Ludyanto, dan Koordinator Seni Rupa Joko "Gundul" Sulistiono.
Semangat ini berangkat dari posisi Jalan Malioboro yang merupakan bagian penting dari Sumbu Filosofi Yogyakarta—yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2023.
Namun, kekuatan utama Malioboro tidak hanya terletak pada aspek fisik dan sejarah kawasan, melainkan pada tradisi perjumpaan, dialog, dan proses kreatif yang tumbuh di dalamnya.
Melalui O, Nol Koma #1, Malioboro Classical Jogja menghadirkan kembali ruang ekspresi yang mempertemukan pengalaman para seniman senior dengan energi generasi muda.
Acara ini tidak hanya menjadi panggung apresiasi seni, tetapi juga ruang regenerasi kebudayaan.
Sejumlah musisi yang akan tampil antara lain Sirkus Barock, Akrosh, Alceena Inside, Beauty Disaster, Diar Sahudi & Friends, Jagger, Frida, Lia Yures, Aan Stones, Partikelir, Tjongpick, hingga Kelompok Penyanyi Jalanan Malioboro (KPJM).
Selain pertunjukan musik, acara ini juga menghadirkan pembacaan puisi dan sastra oleh Doni Haryo, Sekartaji Ayuwangi, Luwi Darto, Dinar Roos & Pak Yan, Ahmad Jalidu, Piwulang Sastra, Silvia Anggreni Purba, Dewi Wapah, Menik Sithik, dan Daniel Godan.
Aktivitas seni rupa juga akan ditampilkan dan melibatkan berbagai komunitas serta seniman kolaborator.
Salah satu agenda utama dalam pembukaan O, Nol Koma #1 adalah peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.
Sosok yang dikenal sebagai "Presiden Malioboro" itu dipilih sebagai tokoh pertama dalam program memorial budaya yang digagas penyelenggara.
Monumen riilnya dijadwalkan akan didirikan pada penyelenggaraan O, Nol Koma #2 yang mengusung tema Merawat Jejak, Merajut Waktu.
Monumen tersebut dirancang sebagai media dokumentasi dan pengenalan tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan seni, budaya, dan kehidupan intelektual Yogyakarta.
Selain memuat informasi dasar mengenai tokoh, monumen akan dilengkapi kode QR yang menghubungkan pengunjung dengan arsip digital berisi dokumentasi, karya, serta referensi terkait perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi.
Ke depan, program memorial budaya ini akan menghadirkan tokoh-tokoh lain yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah dan perkembangan kebudayaan Yogyakarta.
Nama O, Nol Koma dipilih untuk menggambarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu berawal dari titik kecil.
Acara ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya generasi baru pelaku seni dan budaya.
Gelaran O, Nol Koma #1 diharapkan dapat menjadi titik awal tumbuhnya kembali ruang dialog, ruang apresiasi, dan ruang kreatif yang selama ini menjadi denyut kehidupan Malioboro.
Sebab, seni tidak hanya membutuhkan panggung, tetapi juga ekosistem yang memungkinkan gagasan, karya, dan manusia bertumbuh bersama. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin