Rayakan ulang tahun ke 6, Aveta Hotel Malioboro gandeng Jogja Disability Arts (JDA) hadirkan Pameran seni bertajuk “Together Beyond Limit” sepanjang November 2025 bertempat di Kala Jumpa Bar &.Dine.
Bukan sekadar perayaan, penampilan karya ini menjadi momen untuk saling memaknai bahwa keterbatasan bukanlah penghalang berkarya.
Cynthia Carissa, General Manager Aveta Hotel mengungkapkan penampilan karya dalam pameran tersebut membawa pesan kuat tentang sebuah potensi layak mendapat ruang untuk dihargai, dinikmati, dan kesempatan tampil berekspresi yang sama. Sebuah ajakan bersuara lewat karya yakni ketika gagasan termuat dalam kanvas-kanvas.
Sebanyak 25 seniman dari empat ragam disabilitas sesuai UU No 8 tahun 2016 meliputi disabilitas fisik, disabilitas motorik, disabilitas sensorik, dan disabilitas intelektual. 30 karya serentak dipamerkan di dinding-dinding lobi Aveta Hotel lengkap dengan kode QR di bawahnya..
“Melalui pameran ini, kami berharap dapat memberikan ruang berekspresi dan sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi para seniman disabilitas untuk bersinar di dunia seni, menunjukan potensi dan kreativitas sekaligus memperkenalkan karya mereka sebagai salah satu aset berharga anak bangsa,” ujarnya pada peresmian pembukaan pameran pada Sabtu (01/11/2025).
Disamping menampilkan karya seni ramah disabilitas, Aveta Hotel Malioboro juga memiliki dua karyawan disabilitas yang merupakan penyandang disabilitas rungu.
Cynthia menambahkan hotel juga secara rutin membuka kesempatan magang untuk teman-teman disabilitas. Tak berhenti disana, Aveta hotel juga beberapa kali telah mengadakan pelatihan bersama belajar bahasa isyarat bagi para karyawannya.
Ketua sekaligus founder JDA, Sukri Budi Dharma mengatakan karya telah dikurasi berbasis cerita seniman.
Pada pameran ini para seniman menyoroti berbagai isu diluar isu difabel. 30 karya seni tertuang dalam beragam medium seperti akrilik, minyak, hingga perpaduan antara teknik melukis menggunakan cat, bolpoin, dan spidol.
“Ini teman-teman disabilitas di Indonesia ini isu-isunya justru bukan bicara tentang disabilitas, dia malah bicara tentang isu-isu alam. Isu ada politik, terus ada isu tentang polusi atau apa. Tapi mereka justru menunjukkan di karya-karya ini mereka punya kepekaan sosial yang tadi saya bilang,” terang Budi.
Ia juga menerangkan, para seniman juga mendapatkan pendampingan selama proses berkarya.
Tak hanya secara teknis tapi juga mencakup pengembangan ras percaya diri seniman. Lebih lanjut lagi, JDA menerapkan pendekatan inklusif pada setiap seniman dengan tidak membatasi karya pada tema-tema tertentu. Seniman diajak bersama menggali makna dan cerita pribadi yang ingin disuarakan.
Seperti pada salah satu karya milik Yogi Suganda Siregar, seniman disabilitas rungu yang mengangkat isu politik. Karya berjudul “Sayap yang Terikat” tersebut menampilkan sebuah bola mata terbang tengah menarik sebuah batu.
“Saya minta dia untuk menjelaskan itu juga karena dia tuli bicara teman-teman tuli bicara itu kan rata-rata kosa katanya minim Jadi saya terus melakukan penggalian, intinya dia bicara tentang itu, sesuatu yang susah dirubah, salah satunya” jelas Budi.
Salwa Mutia
Editor : Bahana.