Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Catat! Merekam Perjalanan Pasar dari Masa ke Masa, Pameran Abhinaya 2025 Bakal Hadirkan Ratusan Koleksi Lampau

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 10 Juni 2025 | 03:57 WIB
Pamflet Pameran temporer Abhinaya Karya 2025.
Pamflet Pameran temporer Abhinaya Karya 2025.

JOGJA - Pameran temporer Abhinaya Karya 2025 bertajuk Pasar: A Glimpse Into The Past, Looking Forward To The Future digelar di Museum Sonobudoyo, mulai 3 Juni sampai 13 Juli.

Pameran tersebut merekam perjalanan waktu terbentuknya pasar dari masa ke masa melalui koleksi-koleksi yang berusia ratusan tahun.

"Kami ingin menyuguhkan kilas ke belakang bagaimana pasar itu ada dari zaman barter, kerajaan sampai masa kolonial dan sekarang," ujar Kepala Museum Sonobudoyo Ery Sustiyadi saat dikonfirmasi, Senin (9/6/2025).

Penggambaran tersebut diwujudkan dalam koleksi dan properti pendukung yang dipamerkan di galeri pameran Museum Sonobudoyo.

Total ada 220 koleksi yang dihadirkan. Dari total koleksi, Museum Sonobudoyo memarkan 178 koleksi dan sisanya berasal dari museum dan bank lainnya.

"Ini masuknya pameran koleksi museum, museum Bank Indonesia, otoritas jasa keuangan (OJK) dan lainnya," tuturnya.

Barang-barang yang dipamerkan adalah semacam koleksi alat tukar dan pendukung lain yang digunakan dari zaman ratusan tahun lalu di Indonesia.

Salah satu koleksi yang dipamerkan yakni Moko, salah satu alat tukar umum digunakan pada ratusan tahun yang lalu.

"Moko itu koleksi paling lama, pada zaman kerajaan Hindu-Budha," jelasnya.

Moko mempunyai fungsi ganda. Di satu sisi sebagai alat tukar, namun juga dipakai sebagai barang pelengkap ritual keagamaan oleh masyarakat.

"Karena Moko mempunyai nilai yang tinggi, lalu dijadikan alat tukar juga," terangnya.

Pameran koleksi ini semacam perjalanan waktu dari masa ke masa kaitannya dengan alat tukar dan terbentuknya sebuah pasar.

Mulai dari barang-barang yang dulu digunakan untuk barter, moko, uang logam, uang kertas lalu terbentuk sebuah pasar hingga saat ini muncul obligasi, saham dan sebagainya yang lebih modern.

"Melihat bagaimana pasar di masa lampau, lengkap dengan sosial budayanya," tambahnya.

Dalam pameran tersebut juga memuat berbagai informasi tentang proyeksi kaitan dengan terbentuknya pasar di masa yang akan datang. Yakni adanya pergerseran model alat tukar ke dalam bentuk digital di era sekarang. Mulai dari saham, pasar modal dan sebagainya.

"Pasar tak hanya sekadar jual-beli namun sebagai media interaksi sosial budaya," bebernya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, lewat pameran tematik tersebut sekaligus mengajak masyarakat mengetahui perjalanan pasar.

Pada era kekinian, dunia pasar telah mengalami perubahan besar. Transaksi tak hanya dilakukan secara tunai, namun juga dalam bentuk nontunai. S

istem pembayaran digital, seperti e-wallet, kartu kredit, dan aplikasi pembayaran lainnya

"Dalam rangkaian pameran ini, akan ada workshop terkait dengan bagaimana bijak mengelola uang,” ujarnya. (oso/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Perjalanan Pasar #Koleksi Lampau #Masa ke Masa #merekam #Pameran temporer Abhinaya Karya 2025