Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Info Pameran Lur! Pipilaka Calling Hadirkan Pameran Interaktif dengan Teknologi Canggih untuk Kesadaran Lingkungan: Masih Berlangsung Lho...

Izzatul Akmal Fikri • Sabtu, 27 Juli 2024 | 20:29 WIB

Pameran interaktif dengan teknologi video mapping.
Pameran interaktif dengan teknologi video mapping.

RADAR JOGJA - Pameran berjudul Pipilaka Calling, yang menggabungkan patung terakota dengan video mapping 3D, telah berlangsung hampir dua bulan di JNM Bloc, Kota Jogja.

Pameran ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan, menyasar pengunjung dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa.

Seniman patung sekaligus inisiator Pipilaka Calling, Wahyadi Liem mengungkapkan, pameran ini akan dibuka hingga 28 Agustus, dari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.

Wahyadi juga menambahkan bahwa Pipilaka Calling adalah pameran interaktif yang menampilkan puluhan patung terakota hasil karyanya.

Pameran ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari pameran patung pada umumnya.

Wahyadi mengintegrasikan teknologi canggih seperti video mapping 3D 360, hologram, dan lanskap suara untuk menciptakan lingkungan cerita yang magis, sehingga patung-patung tampak hidup.

Wahyadi menjelaskan bahwa setiap sesi pameran berlangsung sekitar 12 menit dalam sebuah ruangan yang mampu menampung maksimal 38 orang.

Setiap jam, terdapat tiga sesi, dengan jeda sekitar lima menit untuk proses masuk dan keluar.

Dia juga menambahkan bahwa patung-patung yang dipamerkan dibuat dari tanah liat, dengan pengerjaan yang memakan waktu sekitar tiga bulan.

Pemilihan tanah liat sebagai bahan utama didasari oleh sifatnya yang alami dan ramah lingkungan.

Sebanyak tiga puluh patung terakota dipamerkan dalam Pipilaka Calling, dengan sepuluh di antaranya memiliki kemampuan berbicara dan menyanyi.

Baca Juga: Surga Pencinta Buku dan Kopi: Rekomendasi Library Cafe Terbaik di Yogyakarta Cocok Untuk Nongkrong Sembari Nugas Kuliah

Patung-patung ini dirancang untuk menyampaikan pesan mengenai isu-isu penting lingkungan seperti penggundulan hutan, hak-hak hewan, pemanasan global, dan pengelolaan limbah.

Pameran ini dirancang sebagai pengalaman mendalam yang melibatkan keempat indera, dengan tujuan mengubah pengunjung dari penonton pasif menjadi peserta aktif yang terlibat dalam narasi yang disampaikan.

Karya ini menggabungkan seni dengan komentar sosial yang kuat untuk meningkatkan kesadaran tentang krisis lingkungan saat ini.

Patung-patung tersebut bukan sekadar karya seni, melainkan menjadi hidup dan bercerita tentang berbagai isu lingkungan yang rusak akibat tindakan manusia serta tantangan yang dihadapi Bumi saat ini.

Wahyadi mengungkapkan bahwa mereka ingin menciptakan acara yang menyampaikan pesan-pesan penting dengan cara yang menyenangkan, sehingga pesan tersebut dapat diterima oleh semua orang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Wahyadi menjelaskan bahwa "Pipilaka" adalah kata dalam bahasa Sansekerta yang berarti semut.

Dia dan semua yang terlibat dalam pameran ini percaya pada kekuatan tindakan kecil untuk menghasilkan perubahan besar, mirip dengan semut yang membangun koloni secara bertahap melalui kerja sama.

Istilah "Calling" dalam Pipilaka Calling merujuk pada ajakan kepada teman-teman yang memiliki tujuan sama, yaitu melakukan fundraising dengan cara yang menyenangkan.

Filosofi ini mengajarkan tentang kebersamaan, sikap, semangat, dan kepedulian nyata yang bermanfaat bagi orang lain.

Untuk itu, Wahyadi menerapkan sistem tiket untuk pameran unik ini, dengan harga Rp 25 ribu untuk anak-anak, pelajar, dan mahasiswa, serta Rp 35 ribu untuk masyarakat umum.

Tiket dapat diakses di loket depan lokasi pameran. Hasil penjualan tiket akan disumbangkan seluruhnya kepada yayasan atau komunitas yang bergerak di bidang pendidikan, lingkungan, dan kesehatan.

Hanafi K Sidharta, kolaborator sekaligus visual artist dari Pipilaka Calling, menambahkan bahwa pameran ini menonjolkan aspek kolaborasi, dengan melibatkan lebih dari 12 kolaborator.

Baca Juga: Bingung Habiskan Waktu di Akhir Pekan? Ini Dia 3 Tempat Camping Estetik di Jogja yang Wajib Dikunjungi

Petualangan Pipilaka Calling berkolaborasi dengan penulis terkenal Nia Dinata dan Jean Pascal Elbaz.

Selain itu, kolaborasi dalam audio visual 3D mapping melibatkan Does University, Erix Soekamti dari sekolah bakatnya, Balance Putra Jogja Hip-hop Foundation (JHF), dan Valentinus Rommy Iskandar Tanubrata.

Untuk aspek suara, Pipilaka Calling bekerja sama dengan Dubbers seperti Ringgo Agus, Soimah, Dwi Sasono, Heruwa, Cinta Laura, dan Nirina Zubir.

Hanafi menjelaskan bahwa pameran ini bukan hanya menampilkan seni visual, tetapi juga merupakan seruan untuk bertindak, mendorong setiap pengunjung untuk merefleksikan peran mereka dalam upaya pelestarian alam.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Info pameran #patung terakota #video mapping #PIPILAKA Calling #Pameran #JNM Bloc