RADAR JOGJA - Melukis on the spot bukan perkara mudah. Bagi seniman lukis sekalipun. Tapi Bayu Wardhana mampu menghadirkannya dengan berbagai tema. Yang terbaru dengan konsep pakeliran. Berangkat dari konsep alam, salah satunya matahari, di Indonesia sekaligus di khatulistiwa yang menebar bayang dari ujung timur berjalan ke barat, dari pagi, sore hingga malam.
Hal itu ditampilkan dalam pameran tunggal ‘Di Antara Bayang Malam, Pagi, Sore dan selanjutnya’ karya Bayu Wardhana di Langgeng Art Foundation, Jogja. "Yang dimaksud menangkap cahaya dalam karya saya kali ini bukan soal emosi on the spot-nya. Namun jiwa saya bisa terasa dalam lukisan itu kalau saya datang ke lokasi itu," ungkapnya kepada Radar Jogja, Jumat (4/8/23).
Ada 17 karya yang dipamerkan Bayu dalam pameran tunggalnya. Sebagian merupakan lukiasan on the spot di luar negeri. “Namun ada juga sebagian yang saya rekam dan saya lukis di rumah," katanya.
Kurator Pameran A. Anzieb menyebut, konsep alam yang ekologis sekaligus kultural dalam pameran tunggal Bayu Wardhana ini saling berkait. Menebal, saling silang serupa jemari kanan dan kiri, terpisah namun saling bergantung satu sama lain.
Biasanya, lanjut dia, seorang perupa ketika melukis on the spot sering berkait dengan objek-objek eksotis. Berupa pemandangan alam dan keelokannya. Seperti gunung, perbukitan, sungai, laut atau situs-situs candi, tempat-tempat ibadah, bangunan tua, rimba, sudut kota, pemukiman dan termasuk melukis wajah atau figur. “Pada dasarnya melukis secara on the spot bisa dilakukan siapa saja, bahkan setiap perupa. Toh belakangan ini on the spot sedang mencapai trennya, banyak perupa yang tiba-tiba show off ingin mengadu nasib serta popularistas di sana,” kata dia.
Memang, tantangan terberat melukis on the spot adalah ketika karya yang dihasilkan lebih terasa eksibisionis saja atau hanya show off. Memindahkan objek, bahkan tidak ada kedalaman jiwa, apalagi punya energi positif. Namun, hal itu sering dimaklumi dengan dalih namanya saja melukis on the spot tentu pencapaian artistiknya berbeda, tidak seperti melukis di studio yang punya rentang waktu panjang, bisa lebih konsentrasi dan lain-lain bukan begitu argumentasinya."Tapi bukan berarti hasil karya melukis on the spot tidak perlu ada ruhnya, tidak berjiwa. Karya hasil on the spot tetap akan nampak kedalaman jiwanya," jelas Anzieb.
Anzieb juga menyampaikan, Bayu Wardhana merupakan salah satu seniman Indonesia yang mendapat predikat piawai melukis on the spot. Predikat itu melekat karena ia relatif konsisten menempuh jalannya sampai saat ini, juga capaian artistiknya dengan gaya impresionis sering tak terduga hasilnya dalam menonjolkan karakter objek yang diekspresikan. "Ia pun menyadari bahwa kedalaman jiwanya lebih bisa tersematkan lewat karya on the spot daripada karya yang dihasilkan di studio," bebernya.
Melakukan on the spot dengan akrilik memang menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai karakter serta corak kematangan yang diinginkan. Terlebih dengan gaya impresionis. Salah satu alasan Bayu sengaja memakai material itu karena sering melakukan perjalanan jauh ketika melukis on the spot agar cepat mengering dan bisa segera beranjak ke perjalanan berikutnya."Karena keseluruhan fakta estetika yang dibaca itu tidak pernah tuli, selalu mendengar dan membatinnya," tandas Anzieb. (ayu/pra)
Editor : Satria Pradika