Sebanyak kurang lebih 100 peserta turut meramaikan berbagai rangkaian acara Pekan The Rakyat 2022. Acara tersebut diantaranya bincang-bicang mengenai seluk-beluk teh, kompetisi meracik teh, business meeting, dan beberapa acara lainnya.
Direktur Eksekutif ITMA Veronika Ratri mengungkapkan gelaran ini merupakan salah satu upaya untuk turut melestarikan produk-produk teh rakyat dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini penting karena menurutnya sektor teh tanah air kini makin hari makin melesu.
Salah satu sebabnya adalah terjadinya penyusutan areal perkebunan teh di Indonesia. Selama satu dasawarsa terakhir, lahan perkebunan teh mengalami penurunan rata-rata hingga seribu hektar per tahun.
Pada tahun 2001 lahan perkebunan teh di Indonesia mencapai 166.867 hektar. Angka ini terus menyusut hingga akhirnya pada 2020 hanya tersisa 144.064 hektar.
“Kita perlu mendukung petani dengan cara membeli dan memasarkan produk-produk teh rakyat. Harus juga mendukung mereka supaya mempertahankan lahan mereka dengan perkebunan tehnya. Saat ini teh rakyat adalah yang mendominasi untuk lahan. Kita tidak mau teh di Indonesia itu punah. Jadi kita mendukung teh rakyat untuk tetap survive di Indonesia,” jelasnya saat ditemui di salah satu kedai teh di Maguwoharjo, Depok, Sleman, Sabtu sore (17/12).
Selain penyusutan lahan perkebunan teh, belum maksimalnya hasil produksi teh dari para petani juga dinilai menjadi penyebab merosotnya sektor teh tanah air. Apalagi para petani masih cenderung memasarkan teh dalam bentuk pucuk basah.
Menurut Veronika, pucuk basah masih belum memiliki nilai tambah. Harganya juga terbilang rendah dan menyesuaikan permintaan pengepul di masing-masing daerah.
Veronika menjelakan rata-rata petani memiliki lahan perkebunan teh seluas 0,6 hektar. Lahan tersebut memberikan hasil panen sekitar 500 kg teh basah per bulan. Harga pucuk basah di tingkat petani diberi harga Rp 2.000 / kg. Harga tersebut masih harus dikurangi biaya petik sebesar Rp 700/ kg. Sehingga dia mengalkulasikan laba bersih petani hanya Rp 1.300/ kg dengan total pendapatan bersih sebesar Rp 650.000/ bulan.
Untuk itu, dia mendorong para petani untuk terus berinovasi. Selain memaksimalkan hasil produksi teh, hasil panen juga bisa diolah dalam bentuk lainnya guna meningkatkan nilai jual.
“Mereka terus mengalami perbaikan. Itu yang perlu kita apresiasi. Dari produk yang mereka hasilkan, sudah bisa memproduksi teh putih yang harganya mahal hingga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per kg. Rasanya juga berani diadu,” katanya.
Wakil Ketua Paguyuban Tani Lestari Waras Parliant mengaku optimis sektor teh tanah air dapat kembali bangkit di tengah kelesuannya saat ini. Menurutnya, ini bisa tercapai dengan inovasi-inovasi yang diciptakan oleh petani. Apalagi, negara Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar. Baginya ini merupakan pangsa pasar yang baik bagi teh rakyat asli Indonesia.
“Saya optimis bahwa Paguyuban Tani Lestari bisa bersama-sama dengan petani teh lainnya untuk meningkatkan produksi teh rakyat. Inovasi-inovasi yang kita berikan membuktikan petani sangat luar biasa. Kalau melihat pangsa pasar, jika 50 persen saja penduduk Indonesia mengonsumsi teh itu akan sangat membantu.” ungkapnya. (isa/dwi) Editor : Editor News