Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus Amanda Zahra dan Tall Poppy Syndrome: Kenapa Orang Sukses Kerap Jadi Sasaran Empuk untuk Dijatuhkan? 

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Sabtu, 18 Juli 2026 | 10:40 WIB
Ilustrasi Bunga Poppy. (Unsplash)
Ilustrasi Bunga Poppy. (Unsplash)

 


RADAR JOGJA - Di sebuah kebun bunga poppy, biasanya semua tumbuh setara. 

Tapi begitu ada satu bunga yang tumbuh lebih tinggi dari yang lain, ia justru rawan dipangkas duluan. 

Bukan karena cacat, tapi justru karena menonjol.

Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai tall poppy syndrome. 

Kecenderungan orang meremehkan, mengkritik, atau menyerang seseorang justru karena pencapaian atau kesuksesannya.

Baca Juga: Spanyol vs Argentina, Rodri: Tujuan Kami di Piala Dunia adalah Memenangkan Trofi


Istilah ini berasal dari kisah Romawi kuno, saat raja tirani Tarquin memberi contoh pada anaknya dengan memenggal kepala bunga-bunga poppy tertinggi di kebunnya.

Sebuah sinyal untuk menyingkirkan siapa pun yang dianggap terlalu menonjol atau berpengaruh.

Bentuknya di dunia nyata bisa bermacam-macam.

Bisa berbentuk pengucilan, cemoohan, perundungan, sampai meremehkan pencapaian seseorang secara terang-terangan.

Baca Juga: Prancis vs Inggris, Didier Deschamps Konfirmasi Kylian Mbappe Tersedia untuk Perebutan Medali Perunggu Piala Dunia 2026


Menurut riset, perempuan dan kelompok minoritas justru lebih rentan menjadi sasaran pola ini.

Sebuah survei terhadap 4.710 perempuan pekerja di 103 negara menemukan, 86,8 persen dari mereka merasa pencapaiannya pernah diremehkan orang lain di lingkungan kerja.

Mulai dari standar yang lebih tinggi dibanding rekan kerja pria, sampai tuduhan tidak sepenuhnya meraih kesuksesan lewat kerja keras yang sah.


Pola semacam ini rupanya tidak hanya terjadi di ruang kantor internasional yang jadi fokus riset tersebut.

Di ranah publik Indonesia terjadi kasus yang menyeret nama selebgram Amanda Zahra.
Amanda, lulusan Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang kini dikenal luas sebagai content creator dengan lebih dari satu juta pengikut, mengaku menjadi korban body shaming dari seorang dokter spesialis kulit dan kelamin bernama Ayu Kusumaningrum, yang bertugas di klinik kecantikan ERHA.


Berawal dari sebuah unggahan foto Amanda yang dikomentari warganet, dr. Ayu ikut menimpali dengan komentar merendahkan soal penampilan Amanda di platform Threads. Bahkan sempat menyebutnya dengan sebutan kasar saat ditanya warganet siapa sosok yang ia maksud.


Kasus ini pun berujung permintaan maaf terbuka dari dr. Ayu lewat video di akun Instagram pribadinya. Disusul klarifikasi resmi dari pihak ERHA yang menegaskan tidak mentoleransi perilaku semacam ini.
Kalau dilihat lewat kacamata tall poppy syndrome, kasus ini menyingkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar satu komentar buruk di media sosial.


Semakin tinggi profil seseorang, dalam kasus ini adalah semakin banyak pengikut, semakin dikenal publik, semakin sukses di bidangnya, semakin besar pula kemungkinan ia menjadi sasaran kritik yang tidak selalu adil, bahkan dari orang-orang yang seharusnya berada di posisi netral atau profesional.


Dampak dari perlakuan semacam ini tidak dapat disepelekan. Bisa memicu harga diri rendah, stres berkepanjangan, kecemasan, bahkan gejala fisik seperti gangguan tidur dan pencernaan pada pihak yang jadi sasaran. 


Artinya, dalam setiap komentar yang terkesan "cuma bercanda" atau "cuma opini pribadi" di media sosial ada dampak psikologis nyata yang sering luput dari perhatian publik yang lebih sibuk memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Editor : Meitika Candra Lantiva
bunga poppy amanda zahra Tall Poppy Syndrome