RADAR JOGJA - Drama China dengan kisah CEO jatuh cinta pada gadis miskin yang belakangan digemari publik kini menjadi sorotan pemerintah.
Alur cerita yang ringan, manis, dan sarat fantasi dinilai berpotensi memicu ekspektasi tidak realistis, terutama di kalangan kaula muda, sehingga mendorong pemerintah China mengambil langkah pembatasan terhadap produksi drama dengan tema tersebut.
Drama China dengan konsep tersebut dinilai mengada-ngada dan tidak mencerminkan realitas kehidupan.
Alur cerita yang diusung juga dianggap minim edukatif.
Sebab acap kali menampilkan tokoh pria sebagai sosok berkuasa, kaya, dan serba sempurna, sementara tokoh perempuan digambarkan berasal dari latar belakang keluarga miskin.
Pola narasi semacam ini dinilai memperkuat fantasi sosial yang tidak realistis.
Selain itu, cerita tersebut dikhawatirkan membentuk pandangan keliru di kalangan generasi muda.
Seolah-olah bertemu dan jatuh cinta dengan seorang CEO menjadi jalan pintas untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup, serta bahwa kebahagiaan dan kesuksesan dapat diraih secara instan melalui hubungan romantis.
Melihat adanya kritik serta kekhawatiran dari berbagai pihak, pemerintah China pun angkat suara melalui Administrasi Radio dan Televisi Nasional China (NRTA).
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah China mengeluarkan sebuah kebijakan baru yang menertibkan serta membatasi produksi drama, terutama dengan konsep pria yang sangat kaya raya dan wanita berasal dari keluarga sederhana.
Pembatasan tersebut tidak berarti menghapus sepenuhnya drama dengan konsep serupa.
Kebijakan ini diterapkan pada konten yang dinilai terlalu berlebihan dalam mengagungkan kekayaan serta menggambarkan kebahagiaan instan yang diperoleh melalui hubungan romantis dengan sosok CEO yang seolah mampu menyelesaikan seluruh persoalan hidup.
Dalam kebijakan tersebut pemerintah China mendorong industri hiburan untuk membuat cerita yang masuk akal dan realistis.
Pembatasan akan drama dengan konsep romansa masih tetap boleh diproduksi namun dengan catatan cerita tersebut mengandung proses-proses, usaha, perkembangan diri, menyentuh realitas dan budaya di masyarakat. (Salwa Caesy)
Editor : Meitika Candra Lantiva