Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pandji Pragiwaksono Diterpa Polemik Lawakan soal Adat Toraja, Siap Jalani Proses Hukum Adat dan Negara

Magang Radar Jogja • Sabtu, 8 November 2025 | 21:05 WIB
Pandji Pragiwaksono saat membawakan stand-up comedy yang menuai polemik.
Pandji Pragiwaksono saat membawakan stand-up comedy yang menuai polemik.

RADAR JOGJA - Komedian Pandji Pragiwaksono kembali menjadi sorotan publik setelah potongan lawakan lawasnya dianggap melecehkan suku Toraja.

Cuplikan dari pertunjukan stand-up comedy Mesakke Bangsaku yang tayang pada 2013 itu kembali viral di media sosial karena dinilai menyinggung adat Rambu Solo’, tradisi pemakaman masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan.

Dalam video yang beredar, Pandji melontarkan materi stand-up yang menyinggung kebiasaan warga Toraja menggelar pesta kematian dengan biaya besar hingga membuat sebagian jatuh miskin.

Ia juga menggambarkan jenazah keluarga yang belum dimakamkan dibiarkan terbaring di ruang tamu di depan televisi dan dianggap hal biasa oleh keluarganya.

“Di Toraja, kalau ada keluarga yang meninggal makaminnya pakai pesta yang mahal banget. Bahkan banyak orang Toraja yang jatuh miskin habis bikin pesta untuk pemakaman keluarganya,” ujar Pandji dalam video tersebut.

“Dan banyak yang ga punya duit untuk makamin, akhirnya jenazahnya dibiarin aja gitu. Ini praktik umum. Jenazahnya ditaruh aja di ruang TV di ruang tamu gitu. Kalau untuk keluarganya sih biasa aja ya, tapi kalau ada yang bertamu kan bingung ya. Nonton apapun di TV berasa horor,” lanjut Pandji disambut tawa penonton.

Gelombang kritik pun datang dari berbagai kalangan, terutama dari masyarakat adat dan diaspora Toraja.

Mereka menilai candaan Pandji telah melewati batas, karena menyinggung tradisi yang sakral dan penuh makna spiritual.

Pernyataan Permohonan Maaf

Menanggapi hal tersebut, Pandji akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Selasa (4/11/2025).


Ia membuka pernyataannya dengan sapaan yang lembut dan nada penuh penghormatan.

“Selamat pagi, Indonesia. Terutama untuk masyarakat Toraja yang saya hormati.
Dalam beberapa hari terakhir, saya menerima banyak protes dan kemarahan dari masyarakat Toraja terkait sebuah joke dalam pertunjukan Mesakke Bangsaku tahun 2013. Saya membaca dan menerima semua protes serta surat yang ditujukan kepada saya,” tulisnya.

Pandji menegaskan, dirinya tidak bermaksud merendahkan budaya Toraja, namun mengakui candaan itu lahir dari ketidaktahuan.


Ia juga mengungkap bahwa dalam beberapa hari terakhir, dirinya telah berdialog dengan Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, untuk memahami lebih dalam tentang adat dan nilai-nilai budaya Toraja.

“Tadi malam, saya berdialog dengan Ibu Rukka Sombolinggi. Dalam pembicaraan kami, beliau menceritakan dengan sangat indah tentang budaya Toraja tentang maknanya, nilainya, dan kedalamannya,” ujar Pandji.

Lebih lanjut, Pandji menyebut saat ini ada dua jalur hukum yang tengah berjalan: proses hukum negara karena adanya laporan ke kepolisian, dan proses hukum adat yang harus dijalankan langsung di Toraja.

“Berdasarkan pembicaraan dengan Ibu Rukka, penyelesaian secara adat hanya dapat dilakukan di Toraja. Ibu Rukka bersedia menjadi fasilitator pertemuan antara saya dengan perwakilan dari 32 wilayah adat Toraja,” jelasnya.

Komika yang dikenal lewat kritik sosialnya itu mengaku siap menghadapi seluruh konsekuensi yang timbul sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Namun, jika waktu tidak memungkinkan untuk hadir langsung, ia menegaskan tetap menghormati seluruh proses hukum negara yang berlaku.

Dalam penutup pernyataannya, Pandji berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran penting bagi para komika Indonesia agar lebih bijak dalam mengangkat tema tentang budaya dan SARA.

“Yang penting bukan berhenti membicarakan SARA, tapi bagaimana membicarakannya tanpa merendahkan atau menjelek-jelekkan. Semoga para komika di Indonesia terus bercerita tentang adat dan tradisi bangsa ini dengan cara yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih menghormati,” ucapnya.

Di tengah derasnya kritik publik, sikap terbuka Pandji menuai beragam tanggapan.

Sebagian pihak menilai langkahnya untuk menjalani proses hukum adat menunjukkan niat baik dan penghormatan terhadap kearifan lokal.


Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tawa dan budaya harus bisa berdampingan dalam ruang yang saling menghargai. (Retno Anggi Kusuma Dewi)



Editor : Meitika Candra Lantiva
#hukum adat #pandji pragiwaksono #adat toraja #polemik #suku toraja