Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ini Pemilik dan Sejarah Stasiun Televisi Trans7 Yang Viral #BOIKOTTRANS7 Dari Kontroversi hingga Konglomerasi Chairul Tanjung

Jihad Rokhadi • Selasa, 14 Oktober 2025 | 22:51 WIB

 

 

trans7
trans7

 

Trans7, salah satu stasiun televisi nasional, menjadi perbincangan hangat publik beberapa waktu lalu, bahkan muncul seruan pemboikotan. Hal ini dipicu oleh tayangan program Xpose yang dianggap tidak mendidik dan merendahkan tokoh agama, khususnya kiai terpandang di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH. Anwar Manshur.

Dalam tayangan tersebut, narator mengemukakan isu yang dinilai tendensius, seperti klaim "kiai yang kaya raya malah diberi amplop oleh santri, bahkan santri sampai merangkak untuk mencium tangan." Lebih lanjut, narator juga menyinggung perihal santri yang hanya dijadikan pekerja rumah tangga hingga keluarga kiai yang turut menikmati donasi dari jemaah/umat.

Narasi yang memicu kemarahan khalayak luas ini menimbulkan pertanyaan tentang siapa pemegang kendali di balik stasiun televisi tersebut dan pihak yang bertanggung jawab atas penayangan konten kontroversial.

 

 

Profil Pemilik Trans7: Sosok Konglomerat Chairul Tanjung

 

Stasiun televisi Trans7 berada di bawah naungan CT Corp, sebuah perusahaan konglomerasi yang dimiliki oleh Chairul Tanjung.

Lahir di Jakarta pada 16 Juni 1962, Chairul Tanjung berasal dari latar belakang yang bersahaja. Ayahnya, Abdul Ghafar, berprofesi sebagai wartawan media cetak, sementara ibunya, Halimah, adalah ibu rumah tangga. Chairul Tanjung dikenal sebagai sosok yang mandiri dan cerdas sejak belia. Berkat prestasi akademiknya yang memuaskan, ia berhasil melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI).

Setelah merampungkan studi pada tahun 1987 dan menyandang gelar Kedokteran Gigi, Chairul Tanjung justru memilih jalur wirausaha. Bermodal pinjaman dana sebesar Rp150 juta dari Bank Exim, ia bersama tiga rekannya mendirikan PT Pariarti Shindutama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan ekspor sepatu anak-anak ke Italia.

Usaha ini berkembang pesat dan mendulang profit signifikan. Namun, akibat adanya perselisihan internal, Chairul Tanjung memilih untuk undur diri dan membangun bisnisnya sendiri dari nol.

Ia mendirikan Para Inti Holdindo yang membawahi tiga subholding: Para Global Investindo (keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), dan Para Inti Propertindo (properti). Pada 1 Desember 2011, Para Grup berevolusi menjadi CT Corp, yang kini terdiri dari Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources. Bidang usaha CT Corp meliputi layanan finansial, media, ritel, gaya hidup, hiburan, dan sumber daya alam.

Berkat imperium bisnisnya ini, Chairul Tanjung berhasil menduduki daftar orang terkaya di Indonesia dengan estimasi harta kekayaan sebesar US$4,8 miliar.

 

 

Liku-liku Sejarah Berdirinya Trans7 (Awalnya DVN TV)

 

Trans7 memiliki sejarah yang berliku sebelum berada di bawah CT Corp. Stasiun televisi ini mula-mula didirikan dengan nama Duta Visual Nusantara Televisi (DVN TV), yang izin siarannya diterbitkan pada 25 Oktober 1999 sebagai televisi swasta nasional.

Prakarsa pendirian stasiun ini datang dari H. Sukoyo, seorang pebisnis tambak udang asal Jawa Timur, bersama tiga pihak lain. Namun, tak berselang lama, Sukoyo melepas 80% kepemilikan izinnya kepada kelompok Kompas Gramedia.

Di bawah manajemen Kompas Gramedia, DVN TV mengalami rebranding menjadi TV7 pada 28 Desember 2001. Kompas Gramedia mencanangkan program yang fokus pada 70% hiburan dan 30% berita. Program-program yang ditayangkan cukup menarik perhatian, terbukti dari peningkatan pendapatan iklan yang signifikan, dari Rp800 miliar pada 2005 menjadi Rp1,8 triliun pada 2006.

Meskipun mencetak profit, pada tahun 2006 beredar kabar bahwa TV7 akan dijual. Akhirnya, Para Group (melalui PT Para Inti Investindo, yang kini menjadi Trans Corp atau PT Trans Corpora) mengakuisisi TV7.

Di bawah kendali Para Group, Trans7 (nama baru setelah diakuisisi) disebut melampaui profitabilitas stasiun televisi saudaranya, Trans TV. Trans7 pun menuai kesuksesan dengan berbagai program unggulan, seperti Empat Mata, Opera Van Java, On the Spot, Hitam Putih, dan Indonesia Lawak Club. Hingga saat ini, Trans7 tetap menjadi salah satu stasiun swasta yang fokus menyiarkan konten hiburan bagi khalayak luas.

Editor : Jihad Rokhadi
#Boikot trans7 #sejarah Trans7 #trans7 boikot #Boikot Trans7 viral #lirboyo boikot trans7 #Xpose Trans7