RADAR JOGJA - Film Generasi: 90an Melankolia menceritakan tentang sebuah keluarga harmonis. Mereka selalu menjalani hari-hari dengan menyenangkan. Anggota keluarga yang lengkap dan dilengkapi sahabat-sahabat yang baik.
Tokoh utama pada film ini bernama Abby diperankan oleh Ari Irham. Ia memiliki keluarga yang lengkap yaitu Ayah (Gunawan), ibu (Marcella Zalianty), kakak bernama Indah (Aghniny Haque), dan sahabat Indah yang sudah dianggap seperti keluarga bernama Sephia (Taskya Namya).
Keluarga ini merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat diidam-idamkan banyak orang. Banyak orang bilang, tokoh Abby merupakan orang sangat beruntung karena diberkati dengan keluarga yang sempurna.
Suatu hari, Indah (kakak Abby) memberi tahu bahwa kepada keluarganya akan mengikuti sebuah program volunter kemanusian yang ditugaskan di benua Asia-Afrika. Abby sempat menentang keputusan Indah tersebut, namun dengan berat hati tetap menerimanya.
Hingga suatu hari, Indah berangkat ke Singapura untuk melakukan wawancara. Namun, petaka tiba-tiba datang.
Abby dan orang tuanya pun sangat terkejut dengan peristiwa tersebut. Mereka merasa kebingungan dengan peristiwa buruk yang tiba-tiba menimpa. Alhasil keterpurukan dan kesedihan yang mereka rasakan terus berlarut-larut dalam waktu yang lama.
Film ini merupakan adaptasi dari buku dengan judul Generasi 90-an karya Marchella F.P. Film ini tayang di bioskop pada tahun 2020. Saat ini, penikmat film dapat menonton film ini melalui aplikasi streaming Netflix.
Mendengar judul filmnya saja, kita sudah bisa membayangkan bahwa film ini memiliki tema yang berkaitan dengan tahun 90-an. Film ini cukup kental dengan esensi-esensi tahun 90-an.
Meskipun cerita yang diangkat berlatar tahun 2019. Esensi-esensi tersebut sangat terasa pada tone-tone warna setting yang digunakan dalam film.
Selain pada tone warna setting, esensi-esensi tersebut muncul pada barang-barang yang terdapat di rumah keluarga Abby yang sangat kental dengan tahun 90-an seperti di kamar Abby terdapat poster Kurt Cobain serta poster album Green Day, Dookie. Kemudian, fashion yang digunakan para tokoh-tokoh pun masih memiliki ciri khas yang mengacu pada fashion tahun 90-an.
Cerita film diawali dengan monolog tokoh utama yaitu Abby yang menceritakan latar belakang keluarganya yang semuanya berkaitan dengan tahun 90 dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu.
Pada mulanya, ia bercerita tentang tahun kelahirannya yang menjadi penutup esensi tahun 90, namun pada saat ia lahir bertepatan dengan peristiwa bersejarah bagi Indonesia yaitu kemenangan Susi Susanti pertama kali.
Setelah itu, ia bercerita tentang tahun pernikahan kedua orang tuanya, yang bertepatan dengan peristiwa hari ditemukannya jasad Kurt Cobain pada tahun 90. Kemudian hari kelahiran Indah (kakak Abby) yang bertepatan dengan hari kecelakaan Nike Ardilla pada tahun 1998.
Pada 20 menit pertama berjalannya film masih menggambarkan keharmonisan keluarga ini.
Keharmonisan tersebut digambarkan pada setiap kegiatan-kegiatan yang monoton namun menyenangkan seperti makan bersama, berlibur di pantai, dan merayakan hari ulang tahun anggota keluarga dengan sederhana namun penuh kehangatan.
Hingga menit 20 berakhir, baru muncullah peristiwa yang menyedihkan yang terus berlarut. Suasana kesedihan dan kehilangan terus berlanjut hingga akhir cerita.
Kelebihan yang terdapat pada film ini yaitu penggambaran dan nuansa tahun 90 an sangatlah terasa. Hal itu menjadi sebuah keberhasilan karena terdapat kesesuaian antara judul dengan apa yang ditampilkan.
Suasana-suasana yang dibangun membawa penonton bernostalgia dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun 90-an.
Meskipun latar 90 an hanya menjadi sebuah pemanis dan fokus cerita mengacu pada rasa sedih yang mendalam karena kehilangan Indah.
Film ini menunjukkan tahapan manusia dalam mengelola dan menghadapi sebuah kesedihan. Karakter-karakter dalam film ini menunjukan tahapan-tahapan manusia saat merasakan kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintainya.
Fokus dalam film ini yaitu bagaimana seseorang mengelola rasa sedihnya hingga berakhir menjadi penerimaan yang ikhlas.
Terdapat dua pesan yang tersimpan dalam film ini yaitu mengingatkan kita bahwa kesedihan dan kebahagian tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.
Manusia selalu mempunyai cara yang berbeda-beda untuk menghadapinya. Kedua, penonton dapat berempati terhadap korban kecelakaan pesawat terbang yang harus kehilangan orang yang dicintai secara tiba-tiba (Annida Muthi’ah)
Editor : Bahana.