Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

REVIEW BUKU: Membaca Jawa pada “Melathi Megar Sore”

Administrator • Senin, 2 Januari 2023 | 17:46 WIB
REVIEW BUKU: Novel berbahasa Jawa “Melathi Megar Sore” yang ditulis oleh Umi Kuntari. (DOK PRIBADI)
REVIEW BUKU: Novel berbahasa Jawa “Melathi Megar Sore” yang ditulis oleh Umi Kuntari. (DOK PRIBADI)

 

Oleh: Jimmy Jeniarto

(Dosen freelance pada mata kuliah Logika dan Etika)

 

SEBUAH NOVEL berbahasa Jawa “Melathi Megar Sore” yang ditulis oleh Umi Kuntari memenangkan sayembara novel berbahasa Jawa yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Jogjakarta tahun 2019.

Novel ini mengkisahkan perjalanan hidup seorang wanita desa bernama Suti. Dari usia anak, dewasa, hingga tua. Suti kecil bercita-cita menjadi guru Sekolah Dasar. Berusaha keluar dari kemiskinan orang tua dan keluarga. Namun, justru kemiskinan itulah yang mengkandaskan cita-cita Suti. Orang tua Suti hanya mampu menyekolahkannya hingga tingkat SD. Tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan ke jenjang lebih tinggi.

Suti kecil hidup di satu desa Jawa dengan lingkungan yang kurang terjamah modernisasi dan Ibrahimisasi (Islam ataupun Kristen). Desa Pasabinan, terletak sekitar satu setengah kilometer dari Pasar Mangiran, Bantul. Kebudayaan “Jawa lama” masih mendominasi penduduk desa Pasabinan.

Mbah Rubiyem, ibu Suti, menjadi janda sejak Suti berusia dua tahun. Untuk membesarkan enam orang anaknya, Mbah Rubiyem bekerja serabutan apa saja. Ia juga seorang dukun bayi. Dan cerita di dalam novel ini memiliki “tulang belakang” pada dunia dukun bayi di sebuah desa di Jawa.

Dukun bayi merupakan suatu profesi tua. Bagian dari dunia perdukunan secara keseluruhan. Dengan berbagai predikat, dihormati ataupun dicaci.

Datangnya sains modern kemudian membuat profesi dukun bayi berhadapan dengan pilihan berubah atau punah. Berubah berarti beradaptasi dengan sains modern. Punah adalah ketika berusaha mempertahankan cara dan ide lama di tengah masyarakat yang berubah secara epistemologis-tekhnologis.

Profesi bidan telah siap mengganti dukun bayi. Di dalam novel ini, Wening, putri Suti, berprofesi sebagai bidan. Menggantikan posisi ibu dan neneknya yang dukun bayi. Juga menantu Suti, Gendhuk, yang memiliki usaha spa bayi, mengganti profesi Suti sebagai tukang ndadah bayi.

Selain itu, gelombang pasang theologi Ibrahimistik mengakibatkan dunia perdukunan Jawa didesak untuk tunduk menyesuaikan dengan ideal-ideal Ibrahimik. Jika tidak, maka akan diposisikan sebagai bagian dari hal yang negatif, sebagaimana disinggung di novel ini melalui istilah dukun “prewangan”, yang dilawankan dengan dukun “aliran putih”.

Secara umum, novel ini bercerita tentang kebudayaan masyarakat Jawa di sebuah desa Jawa. Dengan segala perubahannya, selambat apapun itu. Ada perubahan kehidupan sosio-ekonomis di dalam masyarakat agraris yang sedang mengalami proses proletarisasi dan harus mengikuti irama masyarakat pasar-perkotaan. Hal ini membentuk perubahan pada tingkat ide.

Dalam konteks desa Pasabinan, perubahan ide tersebut bisa dilihat dengan kategori-kategori disiplin filsafat: ontologis, epistemologis, dan axiologis. Gambar-gambar proses transformasi kebudayaan Jawa tersebut mengiringi fase-fase hidup tokoh Suti: anak, dewasa, tua.

Ada perubahan pandangan terhadap hal-hal supranatural (danyang desa, Tuhan monotheistis, dll.). Beberapa mungkin merupakan desakralisasi, namun tidak ekuivalen dengan desupranaturalisasi secara keseluruhan. Ada perubahan ritus-ritus (sesaji, puasa, doa, dll.). Mungkin terjadi banyak penyederhanaan ritus, namun tidak ekuivalen dengan kehidupan (yang sakral ataupun profan) menjadi lebih ekonomis.

Juga penafsiran ulang – atau pemaknaan ulang – terhadap simbol-simbol atau ikon-ikon yang ada pada kebudayaan Jawa sebelumnya. Simbol-simbol atau ikon-ikon yang tidak hendak ditinggalkan, namun juga tidak hendak dipegang dengan cara lama.

Ada beberapa upaya untuk melakukan rasionalisasi ataupun eksplanasi terhadap suatu simbol, peristiwa atau fenomena. Namun, pertama, terkait rasionalisasi, lebih merupakan pemberian makna baru dengan meninggalkan makna lama. Misal, beberapa makna uborampe upacara mitoni atau tingkeban yang diterangkan oleh Suti.

Kedua, terkait eksplanasi, ada pengintrodusiran penjelasan-penjelasan natural terhadap suatu fenomena atau peristiwa yang sebelumnya tidak bisa dipahami rangkaian penyebabannya, dan hanya diketahui akibat-akibatnya. Penjelasan natural yang datang belakangan ini lebih merupakan sumbangan kemajuan sains modern yang dipasokkan terutama melalui lembaga-lembaga pendidikan modern. Misal ketika Suti menjelaskan soal jamu sawanan.

Perlu digarisbawahi, pembaca perlu berhati-hati jika muncul rangsangan untuk melakukan generalisasi terhadap kebudayaan Jawa secara keseluruhan. Sebagaimana studi Geertz “The Religion of Java” yang hanya mengambil satu tempat di Jawa Timur, yakni Mojokutho, sebagai lokusnya, maka novel ini hanya mengambil satu desa di Jogjakarta sebagai lokus imajiner-nya: Pasabinan.

Suti kecil hidup di desa Pasabinan yang sunyi. Tidak terdengar suara azan di tengah mayoritas penduduk yang secara nominal beragama Islam. Jalan desa masih tanah dan penduduknya sebagian besar bekerja serabutan. Rumah-rumah masih banyak yang terbuat dari anyaman bambu (gedheg). Banyak tanah kebonan (pekarangan atau tegalan) yang luas-luas namun kosong karena pemiliknya tinggal di kota.

Di dalam satu fragmen, novel ini menceritakan seorang pencuri kelapa di malam hari yang kebingunan karena tidak bisa keluar dari kebonan luas milik ndara Demang. Ia kemudian dipergoki oleh pemilik rumah. Cerita ini mengingatkan saya pada bapak saya.

Sekitar era 1960an atau awal 70an, di tengah malam, bapak saya pulang dari rapat di Bantul kota. Ketika masuk halaman rumah, ia melihat ada orang di kebonan. Ternyata seorang pencuri kelapa yang kebingungan tidak bisa keluar dari kebonan rumah kami yang luas dan berpagar tembok tinggi.

Novel ini juga menyinggung Mbah Rubiyem memakai rukuh (mukena) pemberian Bu Cokro yang baru pulang dari ibadah haji. Saya juga langsung teringat nenek saya, yang biasa dipanggil dengan sebutan “Bu Cokro”, yang meninggal dunia di Arab Saudi tahun 1989 usai menunaikan ibadah haji.

Desa Pasabinan. Di dalam bahasa Jawa, kata “sabin” berarti sawah. Pasabinan bisa berarti “sawahan”. Sekitar satu setengah kilometer dari Pasar Mangiran, Bantul, terdapat sebuah pedusunan yang bernama Sawahan. Di kecamatan Srandakan. Tempat kediaman leluhur saya. Beberapa nama karakter di dalam novel ini juga mirip dengan nama-nama beberapa penduduk dusun Sawahan, Bantul.

Selain menikmati karya sastra, membaca novel ini juga serasa membaca catatan-catatan etnografi, antropologi, sosiologi, sekaligus etika-normatif. Ada ketegangan antara ketidakinginan melepaskan atau kehilangan identitas Jawa (dengan segala diversitas dan sinkretik-nya) yang dibayangkan ada, dengan: pertama, arus deras ide-ide rasional (bertumpu pada sains) yang dibawa oleh modernisasi. Kedua, ketundukan – untuk tidak mengatakan ketakutan – pada doktrin-doktrin Islam puritan. Novel ini mencoba mendamaikannya. Namun, tidak benar-benar berhasil. Ada yang kalah dan dikalahkan. (ila)

 

*Penulis merupakan dosen filsafat, penggemar karya sastra sekaligus film kartun yang tinggal di Kotagede.

Editor : Administrator
#Melathi Megar Sore #Novel Bahasa Jawa #buku #Review Novel