"Nyonya Tak Bisa Masang Gas", Alasan Sederhana Ketua RT di Sleman Beralih Gunakan Jargas PGN

Heru Pratomo • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:45 WIB
Pemakaian gas dari jargas PGN di Nasi Goreng Mas Wit Gejayan, Sleman
Pemakaian gas dari jargas PGN di Nasi Goreng Mas Wit Gejayan, Sleman

 

 

Tidak mau direpoti istri untuk gonta-ganti gas melon. Karena alasan sederhana itulah, Ketua RT 04/RW 02 Karangasem, Santren, Caturtunggal, Depok, Sleman Bambang Prakoso mau memasang program jaringan gas rumah tangga (jargas) di rumahnya. Hal yang sama diikuti 24 kepala keluarga yang sudah tersambung jargas rumah tangga dari Pertamina Gas Negara (PGN).

Berada di area kampus dengan banyak tempat kos-kosan, Bambang membuka usaha kuliner di rumahnya. Tak jauh dari kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sebagai pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dia menggunakan gas elpiji ukuran tiga kilogram atau yang sering disebut gas melon. Dalam sepekan, jika kondisinya ramai, usaha makanannya bisa mengganti hingga tiga kali.


Tapi itu adalah masa lalu. Sejak November 2024 lalu, dia dan 24 kepala keluarga di wilayahnya terbebas dari urusan gonta-ganti tabung gas. Termasuk harus pusing antre saat terjadi kelangkaan. Hal itu karena mereka mulai menggunakan jargas dari PGN.

Baca Juga: Tunggu Pemasangan Girder Jembatan Krakitan, Sopir Bisa Sambil Ngopi di Kendaraan

"Wegah direpoti masang gas, nyonya kan enggak bisa masang gas," kata Bambang di sela kunjungan dari PGN di wilayahnya, Kamis (13/8).

Setelah menggunakan jargas, dengan pemasangan instalasi gas di rumahnya, gas bisa terus menyala saat dibutuhkan. Memang belum semua warga di kampungnya yang menggunakan jargas. Karena banyak di antaranya digunakan sebagai usaha kos-kosan. Dengan sistem pembayaran jargas yang menggunakan abonemen seperti listrik pascabayar, dirasa memberatkan. 

"Dipakai tidak dipakai bayar Rp 40 ribu per bulan," ungkapnya. Untuk jargas di rumahnya, Bambang mengaku per bulan rerata bisa Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per bulan. "Kalau untuk usaha segitu sudah lebih murah tapi kalau yang rumah tangga dengan ekonomi menengah ke bawah mungkin dirasa mahal."

Baca Juga: Siswa Laki-laki di Sleman Kini Jadi Sasaran Vaksin HPV, Tak Lagi Hanya Perempuan

Tapi, lanjut Bambang, jargas juga lebih aman dalam penggunaanya dibandingkan gas elpiji. Menurut dia, dalam pemasangan instalasi jargas, yang digratiskan oleh PGN, sudah ada dua pengaman. Satu di dekat meteran dan satu lagi di kompor. "Jadi kalau pas tidak dipakai atau ditinggal ke luar tinggal ditutup pengamannya," kata dia.

Pengakuan lain dari pengguna jargas disuarakan oleh pemilik usaha Nasi Goreng Mas Wit Elin Aryanita, yang masih satu RT dengan Bambang. Penggunaan jargas sangat membantunya dalam membuka usaha.

Karena kini Elin tak perlu direpotkan lagi dengan stok tabung gas elpiji. Dia kini fokus pada pengembangan usahanya. Karena untuk gas terjamin. "Tak khawatir lagi tak bisa berjualan kalau tabung gas elpiji kosong," katanya.

Baca Juga: Hardjuno: Indonesia Perlu Kembali Menemukan Arah Pembangunan Ekonomi Kerakyatan

Efisiensi pengeluaran pun dirasakannya usai beralih menggunakan jargas. Elin yang membuka usaha nasi gorengnya dari pukul 10.00 sampai 24.00 itu mengaku sebelumnya menganggarkan pembelian tabung gas hampir Rp 2 juta. "Sekarang hanya sekitar Rp 680 ribu. Pokoknya sepertiganya,” ujar Elin.

Saat migrasi dari tabung gas elpiji ke jargas pun dia tak mengalami kendala. Tak perlu membeli kompor jenis khusus. Kompor lama hanya disesuaikan dengan settingan langsung dari PGN. Bahkan di awal Elin juga yang menentukan lokasi kompor, termasuk untuk sambungan ke empat kompr sekaligus.

Hal itu diamini oleh Area Head Semarang PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Sugianto Eko Cahyono. Menurut dia, pelanggan baru jargas tak perlu mengganti kompor gasnya. Petugas akan melakukan konversi pada kompor gas dengan gas dari jargas.

Baca Juga: Ribuan Lilin Menyala di TMPN Kusumanegara Jogja, Peringati HUT Kemerdekaan RI 

Itu karena jarga PGN menggunakan tekanan sekitar 0,03 bar. Untuk gas elpiji tekanannya sekitar 0,5 bar. “Tekanannya lebih kecil sehingga ketika gas bocor, itu langsung menguap ke udara dan tidak terjadi akumulasi gas di ruangan tersebut,” katanya.

Tapi, PGN tetap menyiapkan tim operasional  untuk menangani gangguan pada jaringan, termasuk apabila terjadi kerusakan akibat aktivitas pihak ketiga. “Tim kami selalu stand by untuk melakukan penanganan gangguan. Jadi ketika terjadi kebocoran atau terjadi gangguan, misal pipanya putus, tim langsung melakukan penanganan,” ujarnya.

Baca Juga: Enam Jukir Liar Dipanggil Dishub Bantul, Berdalih Hanya untuk Membantu 

Sugianto mengatakan pengembangan jaringan gas rumah tangga PGN di Yogyakarta saat ini masih terkonsentrasi di wilayah tertentu dengan mempertimbangkan aspek keekonomian. Sejak proyek pertama pada 2023 hingga 2026, jumlah pelanggan PGN di Sleman telah mencapai 4.545 pelanggan rumah tangga (SRT), 6 Pelanggan Kecil (PK), 4 Komersial Industri (KI).

Untuk gas alam yang dipakai di Jogjakarta ini sendiri dipasok dari wilayah Blora, Jawa Tengah. yang dikirim dengan truk ke pressure reducing station (PRS) yang berada di kawasan Gejayan. Di PRS, gas alam bertekanan hingga 200 bar itu diturunkan hingga tiga bar. Sama dengan tekanan di roda truk. Karena masih tinggi, tekanan diturunkan hingga 0,03 bar.

Editor : Heru Pratomo
jargas nasi goreng PGN pertamina gas melon