Kolam berukuran sekitar 6 x 12 meter di Dusun Sorogenen, Menayu, Muntilan itu tidak pernah sepi aktivitas. Di dalamnya, ratusan ikan nila, lele, bawal, hingga patin bergerak lincah, menunggu giliran dipanen. Dari tempat sederhana itu, Sony Gotawa mengembangkan usaha perikanan yang berawal dari hobi menjadi sumber penghasilan.
Sony mengaku, sudah menekuni dunia ikan sejak 2012. Dia mulai tergiur setelah melihat peluang pasar yang cukup besar dan memutuskan terjun sebagai petani ikan sekitar dua hingga tiga tahun terakhir dengan nama Aji Fish.
"Di sini kan banyak petani ikan, terus dilihat dari penjualan juga lebih terjamin. Akhirnya berani mencoba usaha sendiri," kata Sony saat ditemui, Jumat (7/8).
Baca Juga: Susul Marsinah, Wartawan Udin Bakal Jadi Pahlawan Nasional, Namanya Diabadikan Jadi Aula Gedung PWI
Lingkungan yang mayoritas warganya bergerak di sektor perikanan turut mempengaruhi keputusannya. Namun, Sony membangun model usaha yang tidak hanya menjual ikan konsumsi, tetapi juga fokus pada pembibitan.
Jenis ikan yang dibudidayakan pun beragam, mulai dari nila, lele, bawal, hingga patin. Dari semua jenis tersebut, permintaan bibit menjadi yang paling dominan. "Yang paling laris itu bibit. Karena petani butuh untuk pembesaran," ujarnya.
Dia menyebut, pasarnya tidak hanya menjangkau lokal Magelang saja, tetapi dari berbagai daerah seperti Jogja, Solo, Semarang, hingga Pati. Namun, pasar di Magelang juga tetap diminati melalui pedagang dan pemasok di pasar ikan.
Baca Juga: Jalan Tobong-Candirejo Diperbaiki Bertahap, Rp 1,1 Miliar dari APBD Hanya Atasi 230 Meter
Untuk membangun usaha ini, Sony tidak langsung berjalan sendiri. Dia sempat belajar dengan bekerja pada pelaku usaha lain sebelum akhirnya memutuskan keluar dari zona nyaman dan membuka usaha mandiri. "Dulu ikut orang dulu, belajar. Setelah merasa bisa, baru berani buka sendiri," bebernya.
Model bisnis yang dijalankan Sony juga tidak sepenuhnya bergantung pada kolam miliknya. Dia menggandeng petani dengan sistem kemitraan. Dalam skema ini, Sony menyediakan bibit dan pakan, sementara petani menyediakan lahan berupa sawah untuk pembesaran ikan.
Setelah masa panen, ikan tersebut kemudian dibeli kembali oleh Sony untuk dipasarkan. Sistem ini tidak hanya memperluas kapasitas produksi, tetapi juga membantu petani mendapatkan kepastian pasar.
Baca Juga: Pakar Hidrologi UGM Soroti Krisis Air Mengintai DIY, Dorong Tak Sekadar Menunggu Dropping Air
Dari sisi produksi, lanjut dia, bibit ikan umumnya sudah bisa dijual pada usia satu hingga satu setengah bulan. Sementara ikan konsumsi siap panen dalam waktu sekitar tiga bulan, tergantung kebutuhan pasar.
Harga jual ikan konsumsi berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram (kg), tergantung jenisnya. Adapun bibit dijual dengan kisaran harga sekitar Rp 30 ribu per kg.
Meski melayani pembelian dalam jumlah besar, Sony juga membuka penjualan eceran, bahkan mulai dari setengah kg. Sehingga membuat usahanya bisa menjangkau berbagai segmen pembeli, dari petani hingga konsumen kecil.
Baca Juga: Pakar Hidrologi UGM Soroti Krisis Air Mengintai DIY, Dorong Tak Sekadar Menunggu Dropping Air
Sony menyebut, pembeli kerap datang langsung ke lokasi untuk melihat secara langsung. Sebagian membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali, sementara lainnya membeli dalam jumlah kecil untuk konsumsi.
Dari sisi perawatan, Sony mengaku, tidak menerapkan metode yang rumit. Pakan yang digunakan berupa pelet tanpa campuran, sementara air kolam tidak rutin diganti. "Perawatannya sederhana. Air juga tidak diganti, tapi tetap dijaga kondisinya," sebutnya.
Saat disinggung soal waktu panen, kata dia, dilakukan menyesuaikan permintaan pasar. Dalam satu minggu, aktivitas panen bisa terjadi setidaknya sekali, tergantung ukuran dan jenis ikan yang dibutuhkan pembeli. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo