Dulu "Hemat Pangkal Kaya", Sekarang "Hemat Pangkal In This Economy"?

Seli Sulistiani • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:50 WIB
Ilustrasi kondisi ekonomi
Ilustrasi kondisi ekonomi

 RADAR JOGJA - Pepatah "hemat pangkal kaya" sudah lama menjadi nasihat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Maknanya sederhana, siapa yang pandai mengelola uang dan tidak boros, lambat laun akan memiliki kehidupan yang lebih sejahtera. Namun, di media sosial belakangan muncul gurauan baru yang terdengar pahit sekaligus menggelitik, yakni "hemat pangkal in this economy.”

Kalimat tersebut ramai digunakan warganet untuk menggambarkan kenyataan bahwa hidup hemat saja terkadang belum cukup. Di tengah kenaikan biaya hidup, harga kebutuhan pokok yang fluktuatif, biaya tempat tinggal, transportasi, hingga cicilan yang terus membayangi, banyak orang merasa seluruh pendapatannya habis hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Keadaan tersebut banyak dirasakan oleh generasi muda yang baru memasuki dunia kerja. Gaji pertama yang dulu dibayangkan bisa digunakan untuk menabung atau membeli aset, kini justru habis untuk biaya hidup bulanan. Tak heran jika istilah survival mode semakin sering muncul di media sosial. Bukan lagi soal mengejar gaya hidup mewah, melainkan bagaimana tetap bertahan sampai akhir bulan.

Baca Juga: Ketika Kolom Komentar Kehilangan Empati: Pelajaran dari Viral Kasus Yurizal

Di sisi lain, keadaan seperti ini juga membuka diskusi yang lebih luas. Banyak warganet menilai bahwa persoalan finansial saat ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu. Faktor seperti peluang kerja, pertumbuhan upah, harga kebutuhan pokok, hingga kondisi ekonomi secara umum ikut menentukan apakah seseorang mampu menyisihkan penghasilannya atau tidak. Karena itu, membandingkan kondisi generasi sekarang dengan generasi sebelumnya tanpa melihat perubahan zaman dinilai kurang adil.

Pada akhirnya, pepatah "hemat pangkal kaya" mungkin belum kehilangan relevansinya, tetapi maknanya telah bergeser. Jika dulu hidup hemat identik dengan jalan menuju kesejahteraan, kini bagi banyak orang, hidup hemat adalah cara agar tetap bertahan di tengah ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Editor : Iwa Ikhwanudin
In this economy Semakin suram prihatin kondisi ekonomi Ekonomi