Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gunung Merapi Masih Siaga, 14 Kali Guguran Lava Meluncur hingga 2 Kilometer

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
Guguran Lava Merapi Capai 2 Km, BPPTKG Minta Warga Waspada Awan Panas.
Guguran Lava Merapi Capai 2 Km, BPPTKG Minta Warga Waspada Awan Panas.

Advertisement

SLEMAN - Aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah hingga kini masih menunjukkan geliat yang perlu diwaspadai. Gunung api paling aktif di Indonesia tersebut terus memuntahkan lava pijar dan mencatatkan puluhan kali gempa guguran dalam sehari.

Berdasarkan laporan pengamatan terbaru, kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi sempat berganti dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup tenang ke arah utara dan barat dengan suhu udara yang cukup dingin di area lereng, mencapai titik terendah 13,6 derajat Celsius.

Secara visual, puncak Merapi terlihat cukup jelas meski sesekali tertutup kabut tipis. Asap kawah berwarna putih tipis hingga sedang teramati membumbung setinggi 10 meter di atas puncak, menandakan tekanan gas dari dalam perut bumi masih terus berlangsung.

Advertisement

Geliat di dalam perut Merapi juga terekam jelas oleh instrumen kegempaan. Petugas mencatat setidaknya ada 64 kali gempa guguran dengan durasi yang bervariasi, mencapai lebih dari dua menit untuk getaran terlama.

Selain gempa guguran, aktivitas suplai magma baru dari kedalaman juga masih memicu gempa hybrid atau fase banyak sebanyak 66 kali. Hal ini mengindikasikan tekanan di dalam tubuh gunung belum sepenuhnya mereda dan proses pembentukan kubah lava masih aktif.

Advertisement

Yang perlu menjadi perhatian utama, petugas mencatat terjadi 14 kali guguran lava pijar yang mengarah ke sektor barat daya. Guguran material tersebut mengalir menuju aliran Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.

Hingga saat ini, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga). Penetapan status ini didasarkan pada data pemantauan yang menunjukkan suplai magma segar masih terus terjadi secara konsisten.

Kondisi suplai magma yang belum berhenti tersebut berpotensi besar memicu terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu. Oleh karena itu, zona bahaya telah dipetakan secara terukur demi keselamatan masyarakat yang tinggal di lereng Merapi.

Sektor selatan hingga barat daya menjadi area yang paling rawan, terutama di sepanjang aliran Sungai Boyong hingga radius 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga sejauh 7 kilometer. Sektor tenggara seperti Sungai Woro dan Gendol juga masuk dalam zona waspada.

Masyarakat yang bermukim di sekitar lereng imbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam radius bahaya yang telah ditentukan. Selain ancaman awan panas, potensi lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif diperkirakan bisa mencapai radius 3 kilometer dari puncak.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

BPBD Kebumen Diusulkan Naik Jadi Tipe A, Perkuat Kewenangan hingga Respons Penananganan Bencana

BPBD Kebumen Diusulkan Naik Jadi Tipe A, Perkuat Kewenangan hingga Respons Penananganan Bencana

Pemkab Kebumen mengusulkan perubahan status Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjadi organisasi perangkat daerah (OPD) tipe A. Dengan status baru tersebut, BPBD akan memiliki kewenangan dan kapasitas ..

Di DIY Ada 12 Risiko Bencana, Penyandang Disabilitas Alami Kerentanan Berlapis saat Hadapi Bencana

Di DIY Ada 12 Risiko Bencana, Penyandang Disabilitas Alami Kerentanan Berlapis saat Hadapi Bencana

Isu krisis iklim kini semakin jadi perhatian usai bencana melanda berbagai wilayah Indonesia. Sayangnya, penyandang disabilitas belum dapat perhatian memadai, padahal mereka termasuk dalam kelompok yang paling rentan ...

Banjir Bandang Nepal-Tibet Dahsyat, Ini Deretan Faktor yang Memicu Bencana di Himalaya

Banjir Bandang Nepal-Tibet Dahsyat, Ini Deretan Faktor yang Memicu Bencana di Himalaya

Banjir bandang Nepal di perbatasan Tibet dipicu rangkaian fenomena geologi dan iklim. Simak faktor yang membuat bencana di Himalaya begitu dahsyat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer