JOGJA - Harga sejumlah kebutuhan pangan di DIY mengalami penurunan sepanjang Juli 2026. Kondisi tersebut membuat DIY mencatat deflasi sebesar 0,31 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm).
Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan tomat. Melimpahnya pasokan hasil panen dari berbagai daerah membuat harga komoditas tersebut turun hingga tingkat konsumen.
Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, bahwa deflasi Juli menjadi yang kedua sepanjang 2026. Sebelumnya, DIY juga mengalami deflasi sebesar 0,16 persen pada Januari. "Deflasi Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan sejumlah komoditas hortikultura yang mendorong penurunan harga di tingkat konsumen," ujarnya, Selasa (4/8).
Baca Juga: Diplomat Australia Terpikat Potensi Kebumen, Buka Peluang Kerja Sama Sektor Pariwisata-Perdagangan
Berdasarkan data BPS DIY, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi Juli. Kelompok tersebut mengalami deflasi sebesar 1,39 persen dan memberikan andil 0,39 persen terhadap penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Sejumlah komoditas menjadi penekan utama harga pada kelompok tersebut. Di antaranya cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan tomat.
Selain pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi sebesar 0,92 persen dengan andil 0,07 persen. Penurunan terutama dipengaruhi harga emas perhiasan yang mengikuti tren penurunan harga emas dunia.
Namun, tidak seluruh kelompok pengeluaran mengalami penurunan harga. Kelompok transportasi justru mencatat inflasi sebesar 0,82 persen dengan andil 0,11 persen. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi harga bensin selama Juli.
Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 0,28 persen dengan andil 0,02 persen seiring dimulainya tahun ajaran baru. Sejumlah komoditas pangan seperti wortel, ketimun, dan bawang putih turut memberikan andil terhadap inflasi bulan tersebut.
"Secara tahunan, tingkat inflasi DIY pada Juli 2026 mencapai 2,54 persen. Sementara itu, inflasi berdasarkan tahun kalender tercatat sebesar 1,27 persen," paparnya.
Untuk inflasi tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 13,40 persen dengan andil 0,90 persen, terutama didorong kenaikan harga emas perhiasan.
Kemudian, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 4,51 persen dengan andil 0,58 persen. Kenaikan harga bensin menjadi salah satu faktor utamanya.
Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara tahunan mengalami inflasi 1,31 persen dengan andil 0,37 persen. Kenaikan harga beras dan minyak goreng turut mendorong inflasi pada kelompok tersebut.
Jika dilihat berdasarkan wilayah penghitungan IHK, terdapat perbedaan tingkat inflasi tahunan antara Kota Jogja dan Kabupaten Gunungkidul. Kota Jogja mencatat inflasi tahunan sebesar 2,83 persen, sedangkan Gunungkidul sebesar 2,30 persen.
Meski tingkat inflasi tahunannya berbeda, kedua wilayah tersebut sama-sama mengalami deflasi secara bulanan pada Juli. "Sementara, secara bulanan kedua wilayah sama-sama mengalami deflasi, masing-masing sebesar -0,17 persen di Kota Jogja dan 0,42 persen di Kabupaten Gunungkidul," jelasnya.
Secara nasional, tekanan harga juga terjadi pada Juli 2026. BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan. IHK turun dari 111,89 pada Juni menjadi 111,73 pada Juli 2026. (iza)
Editor : Sevtia Eka Novarita